Yang omong siapa?
Minggu lalu saya ngobrol lama dengan seorang teman pelayanan. Banyak hal yang kami bicarakan, baik tentang pembangunan gedung gereja yang sudah mau masuk tahap pemasangan atap, rencana pemindahan jemaat dari daerah aliran sungai ke tempat yang lebih tinggi agar tidak setiap tahun menjadi korban banjir, juga kondisi pelayanan dan pemberitaan firman Tuhan. Dalam obrolan kami ada hal yang lebih membuka mata dan pikiran saya secara pribadi. Hal yang tidak pernah terpikirkan, sehingga itu menjadi berkat yang luar biasa di hari itu buat saya.
Kami lihat kadang sulit membawa jemaat untuk semangat beribadah dan aktif ambil bagian dalam kegiatan rohani. Banyak yang sepertinya biasa saja dan tidak berapi-api, bahkan banyak yang terkesan acuh tak acuh terhadap pemberitaan firman dan aktivitas lain. Pokok sudah hadir ibadah hari minggu, sudah cukup.
Memang tidak bisa sepenuhnya kami menyalahkan jemaat, aktivis yang bersikap dingin dan mendengar sepintas angin lalu. Karena seringkali semuanya tergantung dari yang omong di mimbar itu siapa.
Saya ceritakan waktu saya SMP, pelajaran Bahasa Inggris adalah salah satu pelajaran yang saya paling benci. Walau guru Bahasa Inggris adalah istri dari gembala gereja yang sesinode dengan gereja tempat saya dibaptis. Caranya mengajar membuat saya tidak suka sama sekali dengan mata pelajaran ini. Kebalikannya waktu saya masuk SMA, guru Bahasa Inggrisnya adalah kepala sekolah kami yang tamatan UGM. Cara mengajarnya membuat saya jatuh cinta pada Bahasa inggris, dan nilai saya menjadi sangat bagus dalam pelajaran ini. Ketika ujian masuk BPLP Nusa Dua (sekarang menjadi Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua) ada berbagai macam tes yang harus kami lewati, tes terakhir adalah tes lisan dalam Bahasa Inggris yang dilakukan oleh tiga orang penguji; ada perkataan dari salah satu anggota tim penguji yang tidak akan pernah bisa saya lupakan seumur hidup saya. Dia katakan dari yang kami tes, kamu salah satu dari tiga calon mahasiswa yang bisa menjawab pertanyaan kami. Waktu itu kampus hanya menerima tiga ratus mahasiswa baru, dengan jumlah pendaftar hampir tiga ribu orang dari seluruh Indonesia.
Khotbah yang baik, yang mendewasakan, sering mental, dan tidak berhenti sampai di sana, malah banyak jemaat yang ngedumel dan ngerasani si pengkhotbah karena apa yang disampaikan dari mimbar. Ketika jemaat diajak untuk mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh karena semua harta dunia akan kita tinggalkan, tidak ada yang bisa dibawa ketika mati, jemaat bukannya belajar menyeimbangkan antara mencari hal-hal jasmani dan memberi makan rohaninya, tetapi malah ngerasani yang khotbah.
Enak saja dia omong begitu, dia sudah punya segala sesuatu, rumah bak istana, mobil built up berderet, kekayaan dan asset di mana-mana. Sedang kami rumah masih kredit belasan tahun lagi, sepeda motor butut, hidup masih coan ciak, hidup sehari demi sehari. Dia omongkan enak karena keadaan dia semua ada, kita semua pas-pasan.
“Mari kita belajar berkorban, melayani dengan tulus tanpa memikirkan upah yang kita terima. Berharaplah akan upah langsung dari Tuhan, dan kehidupan kekal.“—kalimat ini biasanya disampaikan ke para pelayan; entah full timer, part timer dan para aktivis. Sehingga dengan ini mereka rela pelayanan tanpa diupah serupiahpun atau cuma diberi Rp25.000-Rp50.000 per pelayanan. Bahkan bulan lalu saya mendengar ada full timer cuma digaji Rp 1 juta sebulan di salah satu kandang terbesar di negara kita. Si Lewi dituntut terus berkorban, sedang si imam terus menumpuk dan menikmati kurban. Jadi kalau ngajari berkorban, pasti mental juga karena praktek di depan mata berbeda. Yang dipaksa terus berkorban siapa, yang terus menikmati korban siapa? Enak sana, ndak enak di sini.
“Ayo memberi, jangan tunggu sampai kaya dulu baru menabur, tirulah janda Sarfat walau hanya sisa makanan terakhir bisa membaginya dengan nabi Elia. Itu makanan terakhirnya lho. Anda limpah ruah, kaya raya, mosok nabur recehan? Tuhan tidak menerima sedekah, tetapi persembahan. Memberi dengan jumlah yang tidak membuat sakit, itu sedekah. Beri dengan jumlah besar sampai terasa sakit, itu baru persembahan.”—ini kalimat sihir pemaksaan dan pemerasan yang kita sering dengar. Dan saya tidak menemukan dasar Alkitabiah dari pengajaran ini.
Kalau melihat orang yang meminta-minta di jalan kemudian diberi tetapi jumlahnya tidak sesuai harapan, kemudian mukanya manyun, sering. Orang yang terus omong tentang memberi, menabur, membawa persembahan, tetapi di hidupnya kita melihat dia sendiri tidak pernah mempertanggung-jawabkan penggunaan semua dana yang masuk secara terbuka. Dana boleh masuk terus, untuk keluar sedikit saja sulit setengah mati, prosedur dan alasannya super panjang, sehingga malas mengurusnya. Pemasukan ok, pengeluaran jangan harap. Padahal dia sendiri pernah khotbah; “Jangan seperti Laut Mati, tidak bisa menyalurkan air yang diterima, hanya menampung saja!” Tapi itu kan khotbah untuk orang lain, bukan untuk yang khotbah. Jadi genaplah firman yang tertulis di Lukas 11:46
Tetapi Ia menjawab: “Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jaripun.
Dari obrolan itu ada hal yang saya lebih mengerti lagi tentang pimpinan Tuhan dalam hidup dan pelayanan saya. Kalau dulu ketika Tuhan tidak mengijinkan saya menerima persembahan-persembahan yang bernilai sangat besar—seperti rumah lantai tiga dengan garasi yang menampung 8-12 mobil, jam-jam mewah dan persembahan-persembahan bernilai sangat mahal—ketika itu sempat saya merasa Tuhan tidak adil terhadap saya karena hamba lain boleh minta, sedangkan saya yang tidak pernah meminta ke orang yang dilayani, mereka yang mau memberi, malah tidak boleh terima.
Yang lain boleh meminta dengan terang-terangan bahkan semi maksa, bahkan mengatas-namakan Tuhan; “Tuhan katakan: serahkan rumahmu kepada saya, Tuhan suruh kamu transfer sekian puluh milyar ke rekening saya! Roh Kudus bilang kamu disuruh memberkati saya mobil”—dan macam-macam pesan yang “konon”dari Tuhan. Ini semua yang mau diberikan kepada saya tanpa saya pernah minta. Mereka yang mau beri, dan saya tidak pernah pakai iman bisik-bisik untuk meminta kepada mereka.
Ketika Roh Kudus katakan, “Aku ingin kamu tetap menjadi hambaKu yang sederhana” butuh waktu cukup lama untuk mengerti dan perlu melihat sendiri contoh akibat daripada keinginan untuk hidup dalam kenyamanan dan kemewahan. Saya melihat dan mengalami sendiri orang yang ingin hidup mewah, tidak jauh-jauh, tetapi teman-teman dekat dalam pelayanan; berani berdusta bagaimana ia mendapat uang untuk membeli gedung pelayanannya, kejadian sebenarnya diputar-balikkan.
Ada yang bersaksi di mimbar bahwa ketika ia pelayanan ke suatu kota ada pengusaha yang menjemput dia dan pengusaha itu menyerahkan satu amplop isi cek dengan nilai fantastis yang kemudian dia pakai untuk membeli gedung yang sekarang dia pakai. Padahal orang yang memberikan dana itu menceritakan kejadian sebenarnya tidak seperti itu. Kejadian sebenarnya bermula dari ia ditelpon ibu dari teman itu, setelah basi basi si ibu itu bilang bahwa putranya mau bicara. Ketika telpon diserahkan ke putranya, si putra kesayangan dan kebanggaan ini, yang memproklamirkan diri memegang kunci surga (pembaca jangan ketawa dan menganggap saya mengarang cerita, banyak pengikutnya yang sudah sadar bisa bersaksi tentang ucapan ini), mengatakan bahwa dia mendapat pesan dari Tuhan untuk si pengusaha agar dia segera mentransfer sekian milyar ke kepadanya. Si pengusaha tidak segera memberikan dana itu, akibatnya ia sering ditelpon lagi, dengan pesan kalau tidak segera mentaati pesan dari Tuhan itu, maka Tuhan akan segera meniup segala usahanya. Di kesempatan lain dikatakan kalau masih tidak mau melakukan maka dalam tahun itu juga Tuhan akan menghabiskan semua kekayaannya. Capek dengan intimidasi itu, si pengusaha kemudian mentransfer bertahap jumlah yang disebutkan, dan kemudian menjauh dari orang itu. Jadi tidak ada cerita dijemput di airport terus disodori amplop isi cek milyaran. Cerita dibikin fantastis, ajaib, penuh mujizat, untuk memberi kesan dia sebagai hamba yang luar biasa, mengundang decak kagum pendengar.
Ada lagi yang saya tahu persis dari orang yang berbeda tapi dari clan yang sama, karena yang dimintai dana menunjukkan SMS-nya kepada saya, minta dana besar untuk kegiatan, tapi dari mimbar cerita yang berbeda. Ngemis ke pengusaha tapi bilang dana yang masuk adalah hasil doa peperangan dan menjarah setan. Orang percaya saja akan cerita dongeng seperti ini, kemudian pasrah bongkokan jadi pengikut yang setia.
Masih banyak kejadian-kejadian sejenis yang saya saksikan sendiri, tetapi singkat cerita bahwa kemudian saya mengerti bahwa hidup mewah bisa mengubah pelayan, motivasi, cara dan tujuan pelayanan.
Saya jadi mengerti mengapa Tuhan melarang saya menerima pemberian-pemberian itu, yang akan mengubah nasib saya sekaligus mengubah motivasi dan tujuan pelayanan dan merusak diri saya. Obsesi untuk menjadi terkenal, punya gedung dan pelayanan yang besar akan membuat orang menempuh berbagai cara untuk mencapainya. Tetapi obrolan dengan teman itu juga membuka cakrawala pikiran saya bahwa hidup sederhana bukan hanya menghindarkan kita sebagai pelayan untuk mengejar obsesi pribadi kita—dengan menempuh jalan, memakai cara, trik yang kotor dan jauh dari kebenaran—tetapi juga mempengaruhi efektifitas kita dalam menyampaikan pengajaran dan kebenaran Firman.
Apa yang bisa disampaikan pembicara dengan lifestyle hidup mewah, jas designer, jam mewah, mobil built up, rumah bak istana, selain tebar janji tentang kesuksesan, kekayaan materi, keyamanan hidup? Dengan lifestyle seperti itu mereka hanya cocok mengajarkan tentang teologi kemakmuran. Dan membuat mereka tidak akan pernah menyinggung tentang salib, ketaatan, penderitaan, penyangkalan diri, berkorban bagi Kristus. Sekalipun mereka mungkin pernah menyinggung sedikit tentang hal itu, pemberitaan mereka tidak akan menjadi efektif, karena contoh yang mereka pertontonkan di depan mata para domba sama sekali berbeda. Ibarat penjual penyubur rambut, tetapi salesnya sendiri botak. Promosi obat pembasmi jerawat, yang jual muka nanas karena jerawat parah.
Lho pak berarti melayani Tuhan harus hidup miskin?
Lha, yang bilang siapa? Hidup sederhana tidak sama dengan hidup miskin. Hidup miskin itu hidup melarat semua serba kekurangan. Hidup sederhana itu tidak menjadikan kenyamanan hidup, kesuksesan materi duniawi sebagai alat dan tujuan akhir yang harus dicapai dan dipertahankan dengan cara apapun. Sebagai alat, berita yang disampaikan bukan lagi tentang injil keselamatan tetapi “injil lain” yaitu injil kesuksesan. Dengan kesuksesan yang diraih untuk menarik dan mengumpulkan pengikut dengan iming-iming kekayaan dan kesuksesan—seperti teknik MLM member diamond membangun jaringan downliner, sehingga isi Alkitab diubah maknanya dan disesuaikan dengan tujuan dan target pribadinya karena tujuan menyenangkan diri, maka tidak akan ada pengajaran yang sehat, hati dan pelayanan yang murni, tentang hidup benar, kekudusan, teguran, nasehat—yang ada hanya khotbah seperti training motivasi, “kamu bisa sukses kalau yakin dan sukses bisa dicapai dengan bergabung bersama kami.”
Ketika kesuksesan menjadi tujuan akhir maka apapun yang dikerjakan bukan untuk Tuhan tetapi untuk keuntungan dan kepentingan pribadi. Ketika sukses, pencapaian ini akan dipertahankan mati-matian dengan segala macam cara. Jangan menyinggung hati jemaat, bikin mereka senang terus, turuti kinginan mereka agar mereka tetap bersama kita, bahkan mengajak yang lain ikut.
Hidup sederhana juga bukan pura-pura miskin. Karena apa tujuan pura-pura miskin? Untuk menarik belas kasihan orang lain dan membuat mereka tergerak mengulurkan tangan dan memberi lebih banyak lagi? Atau menyembunyikan aset agar tidak perlu menyalurkannya kepada orang yang sangat membutuhkan? Dan semua siap diwariskan kepada anak dan cucu?
Mengikuti Yesus selalu digambarkan akan membuat si nobody jadi somebody; yang miskin jadi kaya, orang biasa jadi orang terkenal dan ajaran sejenis. Sehingga ketika saatnya orang itu harus didewasakan mereka sama sekali tidak siap. Karena pengajaran yang tidak sehat maka ketika proses pertumbuhan, pengujian, pemurnian terjadi mereka akan kebingungan dan depresi karena tidak pernah tahu hal itu akan terjadi dalam tiap orang yang ikut Yesus (2 Timotius 3:12). Mereka ikut Yesus karena Yesus adalah jalan menuju kesuksesan dan kekayaan materi yang mereka dewakan. Sepertinya mereka menerima Yesus sebagai Tuhan, tetapi kenyataannya mereka memperbudak Tuhan dan menjadikan Tuhan batu lompatan untuk mencapai keinginan mereka.
Hidup sederhana itu menjadikan tujuan menyenangkan Tuhan sebagai prioritas tertinggi dan tujuan memuliakan Dia. Hanya mengingini apa yang dirindukan Tuhan. Menjadikan diri hamba atas kehendak, perintah dan rencana Tuhan. Mengerjakan segala sesuatu sesuai visi yang Tuhan ungkapkan, melewati jalan yang Dia pimpin, dengan cara yang Dia tunjukkan, sesuai kairosNya. Jauh dari obsesi dan ambisi pribadi yang disamarkan sebagai visi Tuhan. Apalagi didorong oleh keinginan menyamai, menyaingi bahkan mengalahkan orang lain yang kita jadikan idola ataupun kompetitor dalam dunia pelayanan. Hal-hal lain yang kita terima adalah bonus bukan tujuan utama.
Seorang hamba Tuhan dalam salah satu khotbahnya mengatakan bahwa God uses your scars to heal others (Tuhan memakai bekas luka yang sudah sembuh di hidup kita untuk menyembuhkan orang lain).
Dalam pelayanan saya banyak orang yang dikuatkan, semangatnya dipulihkan, mendapat pencerahan dari apa yang saya alami di dalam hidup ini. Share pengalaman-pengalaman di padang gurun lebih berguna daripada teori-teori konseling dan teori motivasi. Mereka lebih mudah menerima apa yang dikatakan karena mereka tahu saya bukan asal omong tetapi saya bicara dari pengalaman berjalan bersama Tuhan. Jadi bukan asbun kasih saran, advis ngawur teoritis, tetapi dari kejadian-kejadian paling kritis dalam krisis kehidupan.
Pelayanan yang efektif akan terjadi ketika kita rela berjalan dalam rencana, pimpinan, kehendak Tuhan, sehingga kita berpengalaman dengan Dia. Firman Tuhan menjadi hidup dan kita menghidupi Firman itu, sehingga apa yang kita sampaikan bukan teori agamawi, bukan juga fokus sukses duniawi tetapi pengalaman dan perjalanan hidup bersama Dia.
Kiranya kita menjadi alat ditangan-Nya, bukan memperalat Dia untuk menangani semua angan-angan kita .