Mengutamakan Tuhan
Kemarin pagi ada teman yang menghubungi saya menanyakan jam berapa saya ada waktu luang, karena ada beberapa hal yang ingin dia diskusikan dengan saya. Saya menyarankan dia menghubungi saya setelah makan malam sehingga saya bisa punya waktu lebih banyak untuk berdiskusi. Saya pikir ada pergumulan berat yang sedang dihadapinya, sehingga butuh dikuatkan dan diberi semangat untuk melanjutkan perjuangan hidup. Ternyata bukan itu.
Semalam dia menceritakan rasa bersalahnya karena waktu membangun rumah dia fokus bagaimana menyelesaikan rumah itu untuk segera bisa dihuni keluarganya. Karena dia ingat khotbah penguasa kandang tentang lima dara yang bodoh dan lima dara yang bijak, intinya mengutamakan Tuhan. Jadi dia merasa bersalah karena selama proses pembangunan, fokus pikirannya ke proyek itu. Saya katakan wajar karena sebagai kepala rumah tangga dia harus bertanggung jawab kepada keluarganya. Dan sama sekali tidak salah kalau pikirannya sementara fokus ke penyelesaian pembangunan rumah keluarganya. Satu jam lebih kami berdisikusi dan ada beberapa hal yang jadi kepikiran saya yang saya rasa perlu diluruskan dari pemahamannya.
Saya katakan saya sudah terlalu sering mendengar khotbah tentang sepuluh gadis itu, tetapi saya sampai hari ini belum pernah mendengar khotbah yang lebih mendalam tentang cerita para gadis itu. Apa posisi/kedudukan sepuluh gadis itu dalam menunggu si mempelai pria? Apakah sebagai mempelai perempuan sehingga satu mempelai laki menikahi sepuluh perempuan? Atau hanya seperti barisan pagar ayu dalam suatu pesta pernikahan? Apa ada arti tertentu dari jumlah sepuluh orang, kelompok lima bodoh dan lima bijak? Padahal jelas disebutkan mereka menunggu mempelai pria datang. Tetapi juga jelas mereka bukan pengantin perempuannya, karena jumlah mereka sepuluh orang.
Walau ada khotbah yang menafsirkan cerita ini sebagai Kristus yang menjemput mempelainya, tetapi sepuluh gadis itu bukan satupun yang menjadi mempelai perempuan. Belum pernah saya mendengar khotbah yang menjelaskan tentang adat istiadat pernikahan Yahudi, yang bila dijelaskan lebih mendalam akan menolong kita untuk mengerti konteks ceritanya sehingga pemahaman kita akan lebih akurat tentang apa posisi ke sepuluh gadis itu. Yang ada selalu tentang minyak tambahan yang dibawa lima gadis bijak yang ditafsirkan sebagai hidup berjaga-jaga; rajin berdoa, tekunan membaca firman Tuhan, menjaga agar roh tetap menyala-nyala, dan beberapa penafsiran lain.
Di masa periode Talmudic (100-600 Masehi) antara pertunangan dan pesta pernikahan biasanya ada rentang waktu selama satu tahun. Pada hari pertunangan (Kiddushin) calon mempelai pria akan datang ke rumah calon mempelai perempuan, membayar emas kawin dan menetapkan janji menikah. Kemudian calon mempelai pria kembali ke rumah orang tuanya untuk menyiapkan tempat tinggal bagi keluarga barunya. Selama masa pertunangan, calon mempelai perempuan tetap tinggal di rumah orang tuanya sendiri. Biasanya dalam waktu setahun kemudian mempelai pria akan datang menjemput mempelai perempuan dan di saat itulah pesta pernikahan berlangsung (Nissuin).
Tidak ada sedikitpun Yesus menyinggung tentang mempelai perempuan yang menunggu jemputan dari mempelai pria. Ia justru bicara tentang para gadis yang ditugaskan menyambut mempelai pria? Kalau tunangan dan mempelai perempuan kita sudah tahu dengan pasti bahwa itu adalah gereja-Nya.
2 Korintus 11:2 — Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.
Wahyu 21:9 — Maka datanglah seorang dari ketujuh malaikat yang memegang ketujuh cawan, yang penuh dengan ketujuh malapetaka terakhir itu, lalu ia berkata kepadaku, katanya: “Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba.”
Jadi kalau jemaat adalah tunangan dan calon mempelai Kristus, sepuluh gadis itu simbol apa? Apa tidak mungkin mereka melambangkan para penguasa kandang atau mimbar—yang terlalu yakin akan kedatangan mempelai pria sesuai waktu yang mereka yakini sehingga tidak membuat Plan B bila ternyata ada perubahan? Atau terlalu penuh perhitungan dalam menyediakan minyak untuk lampu, sehingga disediakan pas-pasan?
Saya tidak mau berandai-andai tentang hal ini, tetapi ada beberapa hal yang pasti dari cerita ini yang bisa kita ambil sebagai pelajaran. Para gadis yang bijak benar-benar berharap untuk ikut masuk ke dalam pesta pernikahan sehingga mereka membuat persiapan yang lebih. Mereka telah membuat persiapan bila ada kemungkinan lain yang terjadi. Sementara para gadis bodoh hanya siap dengan satu skenario; mereka merasa persiapan mereka sudah cukup.
Kita sering melihat kelompok pada gadis yang bodoh lewat pengajaran Tuhan segera datang, sebentar lagi rapture/pengangkatan, semua hartamu akan engkau tinggalkan, jadi serahkan semua untuk Tuhan. (Kasihan Tuhan, nama-Nya dicatut terus.) Bahkan ada yang saya dengar dengan gagah berani menetapkan kedatangan Tuhan pada tahun sekian. Dan semua nubuatannya tidak terbukti. Dan meminta orang-orang untuk menabur gila-gilaan ke dalam pelayanannya.
Bahkan seorang pengusaha pernah menyodorkan hape-nya agar saya bisa membaca pesan yang dikirim kepadanya untuk meminta sekian belas eMber—dan itu bukan permintaan yang pertama tetapi sudah ke sekian kalinya dengan jumlah-jumlah yang fantastis. Dan pengusaha itu terus mengabulkannya, sampai suatu titik dia mulai sadar bahwa ia sedang diperas dan dimanfaatkan. Setelah harta ludes ditabur, dan ternyata Tuhan belum datang, lalu mau makan apa? Apa bisa ditagih kembali yang sudah ditabur ke para penyesat itu? Mereka mengajarkan Tuhan segera datang tapi mereka terus membangun gedung, rumah mewah. Koq, jadi paradox dengan yang diajarkan dan dituntut mereka dari kawanan kambing domba? Ingat, gadis yang bijak tetap punya persediaan, ya.
Yang kedua, kita bisa melihat bahwa gadis yang bijak tidak bersedia berbagi minyak ke gadis yang bodoh. Hati-hati dengan belas kasihan yang menjebak dan mencelakakan. Kita perlu hikmat Tuhan dan pimpinan Roh Kudus.
Dalam pelayanan saya ketemu orang yang bahkan untuk kontrak rumah tidak bisa bayar, karena rumahnya sudah ditabur dalam suatu ibadah—karena konon Tuhan akan ganti dengan rumah mewah. Akibatnya dia sekeluarga malah nebeng di rumah saudaranya yang sedang mengalami masalah keuangan juga. Ini seperti pepatah: berpegang pada akar yang lapuk. Dan buat saudaranya cocok peribahasa yang mengatakan: sudah jatuh tertimpa tangga terus digigit pitbull. Lengkap dah penderitaannya. Mau usir kasihan, wong saudara kandung, tidak diusir, mereka sendiri sedang kekurangan. Jadi jangan main murah hati, tergerak, yang bukan dari dorongan Roh Tuhan, tetapi dari video kegiatan, ucapan, rasa simpati yang dibuat oleh para ahli untuk memanfaatkan orang lain—betapapun mulia, agung tujuannya.
Ada satu keluarga yang saya anggap seperti kakak angkat; setiap saya pelayanan di kota itu yang biasanya minimal selama satu minggu, keluarga ini yang menampung saya menginap di rumahnya. Si suami cerita bahwa kandang tempat mereka beribadah dulu berencana membuat sekolah dengan tujuan agar anak-anak dari domba kurang gemuk bisa sekolah di sana. Segeralah domba-domba masukkan sumbangan karena cita-cita yang demikian mulia itu. Ketika sekolah sudah berdiri, ternyata uang gedung dan uang sekolahnya mahal sekali, sehingga banyak yang tidak bisa menyekolahkan anaknya di sana. Waktu mereka mengeluh ke penguasa kandang dijawab singkat, padat, jelas dan menusuk: Sekolah yang bagus memang mahal, titik. Mana tujuan awal yang katanya agar anak-anak dari keluarga miskin bisa sekolah? Lidah memang tak bertulang. Jadi jangan cepat simpati, kasihan—belajar peka akan Tuhan.
Coba baca ulang cerita tentang 5 gadis yang bijak; mereka sepertinya egois, tidak punya rasa simpati, tidak berbelas kasihan, tidak mau berbagi. Padahal sudah mendengar kabar mempelai sudah datang, berbagi sedikit minyak saja kan tidak akan bermasalah. Tetapi mereka menolak bodoh, menolak dibodoh-bodohi. Koq, mereka yang justru boleh masuk ke dalam ruang pesta?
Sudah mulai terbuka pikiranmu sekarang?
Sebaliknya dengan lima gadis yang bodoh cuma main minta. Lha, orang susah-susah beli, susah-susah siapkan, eh dia main minta saja. Para gadis yang bodoh mulai kehabisan minyak ketika mempelai pria datang.
Banyak orang berprinsip take it for granted adalam hidup ini. Tidak apa-apa tamak, memutarbalikkan kebenaran, nanti tinggal minta ampun kepada Tuhan pasti diampuni. Beres. KALAU sempat minta ampun, kalau mati mendadak? KALAU diampuni karena mempermainkan kasih karunia Tuhan, kalau tidak diampuni?
Para gadis bodoh diajar oleh para gadis bijak jangan main minta, pergi beli sana. Tetapi kalau dulu jumlahnya seimbang 5 bijak 5 bodoh, mungkin sekarang sudah berubah; 1 bijak dan 99 bodoh. Buktinya mau bangun apa, bikin acara apa, mereka tidak disuruh jual rumah mewah mereka, ambil deposito yang mereka sembunyikan, jual emas batangan yang mereka timbun, tetapi minta lagi dan diberikan. Pada akhirnya semua bangunan, gedung, tanah akan jadi milik mereka secara de facto dan tidak mungkin diganggu gugat, tetapi mereka tidak disuruh membeli dengan harta yang sudah mereka pegang, tetapi terus diberi. Bijaksanakah? Dan walau mereka pergi membeli minyak, dan kembali dengan persediaan minyak baru, tetapi pintu sudah tertutup bagi mereka.
Kairos Tuhan, panjang sabar Tuhan, semua ada batasnya. Orang yang memandang enteng semuanya sering tetap merasa aman dan masih banyak waktu bagi mereka untuk bertobat, melayani dalam kebenaran dan kemurnian hati. Tetapi orang-orang seperti itu seringkali tidak akan diberi kesempatan lagi. Pintu sudah tertutup.
Kita tahu selama ini sebagian besar penekanan pemberitaan firman Tuhan ditujukan kepada para domba dan kambing. Sementara para penguasa kandang sering seperti Al Capone dalam film The Untouchables, atau Donnie Brasco—tak tersentuh aturan, teguran atau perintah. Hanya jemaat yang harus menabur, memberi, mengantar aneka persembahan. Sementara si penguasa kandang walau jelas ada di AD/ART harus mengirim/transfer biasanya sepuluh persen dari total persembahan entah ke majelis daerah atau ke pengurus pusat, kenyataannya kirim berapa persen?
Kalau pihak franchisor terlalu nuntut, tinggal pindah ke franchise lain, beres. Kalau sudah besar bahkan buat dan kembangan franchise sendiri saja daripada uang harus dibagi-bagi dengan orang lain. Sebagai franchisor maka para franchisee akan kirim fee ke mereka. Kawanan domba dan kambing diawasi terus jumlah persembahannya, lewat aturan harus menulis nama dan kode di amplop persembahan. Itu jaman dulu, sekarang disediakan deretan mesin EDC di tempat ibadah, jadi lebih mudah mengontrolnya. Yang beri banyak, sedikit, atau yang tidak memberi akan mudah diketahui.
Di kandang tempat saya ibadah tahun 2000 dijelaskan alasan amplop harus ditulis nama, minimal diberi kode dengan tujuan agar si penguasa kandang tahu dan bisa mendoakan bila persembahan menurun berarti penghasilan menurun. Maka konon penguasa kandang akan mengerahkan tim doa menghadapi Tuhan agar keadaan orang itu dipulihkan, kalau perlu ditambah berlipat. Luar biasa mereka itu begitu concern/cemas dengan penghasilan kita, ya. Kalau turun, langsung didoakan supaya naik kembali. Yang ginian lu percaya, Dul?
Sebelum saya keluar dari sana, saya ada mendengar selentingan bahwa si penguasa kandang mendapat tiga puluh lima persen dari total setoran para kambing domba. Sisanya untuk setoran ke senior, biaya operasional, dll. Luar biasa.
Di kota J sehabis khotbah saya diajak omong-omong oleh si manager outlet yang undang saya. Dia cerita beberapa hari lalu semua manager outlet dikumpulkan franchisor yang biasanya gelarnya apa pakai kata senior gitu, disuruh mendata dan memisahkan semua domba dan kambing yang ada di outlet masing-masing berdasarkan jumlah setoran kawanan yang masuk. Yang setor per-bulan di atas sepuluh juta: semua masalah, keluhan, konseling, pelayanan pribadi harus ditangani oleh pemimpin oulet sendiri. Setoran di bawah sepuluh juta per-bulan: semua pelayanan yang dibutuhkan bisa dikerjakan oleh pekerja di outlet, tidak perlu manager oulet turun tangan sendiri. Bisa jadi tujuan harus tulis nama bukan untuk tujuan yang diumumkan dari kotak tempat pidato, tetapi ada tujuan lain yang lebih penting—mengendalikan penghasilan kawanan. Yang pasti bukan untuk pertanggung-jawaban keuangan, karena jarang sekali ada yang berani mengumumkan laporan keuangan dengan terbuka. Kalau nagih, semua kambing domba disorot dengan lampu seterang lampu mercusuar penghasilannya, dan hitungan yang harus diserahkan. Tetapi giliran laporan jumlah penerimaan, penggunaan uang, tiba-tiba semua jadi segelap ruang bioskop yang lagi putar film horor.
Horor beneran dong pak?
Syukurlah mulai pinter kamu sekarang.
Di kota S ada seorang pengusaha yang pas waktu setor P10 masih ada pekerjaan di luar pulau sehingga dia pulang pada pertengahan bulan. Dan dia langsung antar ke penguasa kandang. Bukannya berterima kasih, malah si penguasa kandang marah-marah dan mengatakan agar dia tidak mengulangi lagi terlambat serahkan seperti itu, agar usahanya tidak dihancurkan Tuhan. Padahal selama ini dia setia setor, dan ini pertama kali dia terlambat, akhirnya dia pindah cari kandang lain. Rugi bandar.
Tapi saya takut jadi pinter om, karena kalau saya pinter saya jadi tahu, bisa menggoyahkan iman saya.
Lebih baik tidak tahu, pokok ibadah saja dan tutup mata. Beri dan selanjutnya biar mereka tanggung jawab ke Tuhan. Bukankah Tuhan Yesus walau tahu Yudas suka mencuri uang, tidak pernah menegur apalagi memecat dia dari pegang kas? Kan kita harus menjadi seperti Yesus, biar saja Yudas binasa.
Kalau saya malah tidak mau jadi pinter ko, nanti dituduh jadi kambing yang suka melawan, punya roh kritik, roh pemberontak, tidak tunduk pada pemimpin. Kalau tidak taat pada pemimpin yang kelihatan bagaimana bisa taat kepada Tuhan yang tidak kelihatan?
Jadi si pemimpin mensejajarkan dirinya dengan Tuhan, gitu?
Saya beda lagi kak, katanya kita harus waspada terhadap para nabi palsu yang berjalan keliling, para penyesat. Kita harus tertanam di kandang. Jadi saya hanya boleh menerima pengajaran dari penguasa kandang saya saja, dari sumber lain tidak boleh. Supaya saya berbuah karena tertanam di kandang. Di luar itu saya akan dituduh manusia tidak berbuah. Terus terang saya sejak lama bingung, tahu banyak dan lihat banyak penyimpangan, tapi saya takut pindah, karena katanya kalau sebagai pasukan keluar dari kelompoknya akan jadi sasaran empuk tembakan iblis. Saya harus tetap di dalam kelompok agar selamat. Tapi dengan yang saya tahu, saya lihat langsung banyak tidak sesuai firman Tuhan, hati saya tidak terima, tapi saya takut jadi sasaran serangan iblis. Gimana dong, pak guru?
Framing sebagai kambing, pemberontak, aneka Intimidasi, rasanya sudah umum kita dengar. Metode stick and carrot begitu biasa dipermainkan seenaknya. Taati, turuti, beri sampai sakit, karena kalau tidak sampai sakit itu namanya sedekah; lakukan semua kehendak dan dukung semua rencana franchisor, penguasa kandang atau manager outlet, maka Tuhan akan bikin P3T: Promosikan, buat Percepatan, Pelipat-gandaan, akan bikin Terobosan. Tapi kalau tidak mau menurut maka Tuhan akan segera turunkan PUH penyakit, menghancurkan usahamu dan hukuman yang keras. Sudah takut, belum? Kalau masih belum takut nanti diberikan kesaksian orang-orang yang sakit, bangkrut, mati karena tidak memberi. Mosok tetap tidak tergerak mendengar kesaksian kesuksesan orang-orang yang memberi dengan limpah?
Kembali ke pokok bahasan mengutamakan Tuhan.
Mau tidak mau bukan rahasia umum bahwa ada dua hal yang sedang terjadi yaitu menebar rasa nyaman dan di saat yang sama menancapkan guilty feeling palsu. Memberi rasa nyaman dengan fasilitas gedung, AC, kursi, sound system, alat music yang mahal dan pembicara yang tidak lebih dari motivator, bukan guru-guru yang mengajarkan kebenaran. Dosa tidak pernah ditemplak dengan tegas, hanya himbauan dan paling menyinggung kulit-kulitnya saja. Kita harus hidup kudus, tapi contohnya seperti apa tidak pernah disebutkan. Ibadah dibikin tidak lebih dari perkumpulan sosial, bahkan pertunjukan lawak, untuk menghibur domba dan kambing yang tegar tengkuk dan keras hati. Akibatnya tidak ada perubahan pola pikir, kelakuan, dan pemurnian iman dan tujuan ikut Yesus. Semua dibuat nyaman dan menyenangkan demi kuantitas kambing domba dan kuantitas penerimaan ke kantong pribadi dan keluarga. Perasaan kambing domba nomer satu, perasaan Tuhan tidak perlu dipedulikan, wong Dia mengerti dan pengasih, tinggal minta ampun, beres.
Tetapi di lain pihak kalau tidak memberi akan dihukum, dihancurkan, dibangkrutkan. Kalau tidak mendukung pembangunan, atau rencana apapun akan ditimpa masalah. Berarti hidup mencintai dunia, cinta akan uang, hamba uang dan pasti masuk neraka. Sehingga kambing domba bukan diajar untuk menyelaraskan hidup dengan Firman Tuhan tetapi diarahkan untuk penundukkan mutlak kepada penguasa kandang atau manager outlet. Hidup tidak diperiksa sesuai/tidak dengan kehendak dan hukum Tuhan, tetapi semata-mata diukur dengan ketaatan pada kehendak franchisor. Akibatnya kawanan tidak akan merasa bersalah, berdosa dan tidak tahu bahwa ada aspek hidup yang tidak sejalan dengan Firman Tuhan, tetapi selalu diarahkan—bahkan salah dan berdosa—bila tidak menuruti semua kehendak penguasa kandang, tidak mendukung semua rencananya dan menyetor semua yang diharapkannya. Ini menciptakan rasa salah palsu, bukan rasa bersalah yang diingatkan oleh Roh Kudus.
Mungkin apa pembaca yang masih ingat cerita anak gadis lulusan Teknik Sipil yang diterima bekerja di perusahaan konstruksi di Singapur yang ketika dia cerita dan pamitan kepada penguasa kandangnya, ia dikatakan meninggalkan Tuhan? Ketika konseling ke saya, saya melihat dia sangat stress. Di satu pihak dia sangat ingin menerima pekerjaan di Singapore itu, yang tentu saja akan baik sekali untuk karirnya di masa depan, tetapi di pihak lain dia ketakutan karena dikatakan meninggalkan Tuhan. Betapa bahayanya kalau sampai meninggalkan Tuhan, neraka sudah di depan mata. Saya tanya apa Tuhan cuma ada di kota S saja dan tidak ada di Singapur. Dia jawab ada. Kalau ada, bagaimana bisa dibilang meninggalkan Tuhan? Terus saya tanya dia lulusan apa, dia bilang Teknik Sipil, ya cocok bekerja di bidang konstruksi. Omong punya omong akhirnya dia cerita dia pemain keyboard utama di kandang itu. Pantesan si penguasa kandang memakai alasan dia meninggalkan Tuhan, agar dia tetap di kota S, membantu pelayanan si penguasa kandang.
Dulu di jaman penataran P4 ada yang namanya azas manfaat—jadi diplesetkan sebagai dia harus tetap dimanfaatkan oleh si penguasa kandang untuk kepentingannya sendiri TANPA memikirkan masa depan si anak gadis itu. Saya katakan, pergilah kerja di Singapur, kecuali penguasa kandang itu berani menggaji dia sebesar yang dia terima di Singapur baru tetap main keyboard di kandang itu.
Rasa salah palsu begitu banyak ditanamkan untuk memanfaatkan orang lain, mengendalikan dan mengekplotasi orang lain demi kepentingan pribadi.
Kita harus peka dan bisa melihat dengan jelas pekerja yang bertugas memelihara kambing domba berharap upah dari pemilik kambing domba, atau malah menjadikan kambing domba sebagai makanannya. Jelas sekali bisa dilihat perbedaan yang mecolok, tidak perlu sekolah teologi untuk bisa membedakannya.
Ciri pertama adalah motivasi dan tujuannya—apakah menjadi hamba pemilik domba atau malah jadi tuan dari kambing domba. Kalau dia adalah hamba maka semua yang dia kerjakan bertujuan menyenangkan pemilik kawanan, bukan menyenangkan kawanan dengan mengorbankan pemilik. Keliatan jelas dari khotbahnya, pembicara yang diundang, acara yang dibuat. Kalau main tebar janji sekaligus tebar ancaman jelas dia ingin jadi tuan dari kawanan.
Ciri yang kedua terlalu banyak rencana proyek pembangunan fisik, semua difokuskan ke sana, karena dia tidak punya visi dari pemilik kawanan sehingga menyibukkan kawanan dengan obsesi bangun ini bangun itu, tanpa membangun kawanan menjadi bangunan dan tempat kediaman Allah (1 Korintus 3:9, Efesus 2:22). Kemudian semua bangunan fisik itu akan diwariskan ke keluarganya sendiri. Kawanan yang membiayai, tapi kemudian dijadikan harta warisan bagi keturunannya. Keturunannya jadi kaya raya, yang nyumbang tetap jadi kere.
Ciri ketiga adalah mengalienasi/mengucilkan kawanan dari pengajaran, guru, doktrin lain sehingga tunduk bongkokan kepada kehendaknya saja. Jual kecap sebagai ajaran doktrin paling benar, pekerja pilihan, sedang yang lain adalah pekerja afkiran.
Ciri keempat menghalangi, menyingkiran orang-orang yang berpotensi, agar kerajaannya langgeng dan suksesi ke anak aman tanpa hambatan. Jadi seperti perusahaan keluarga yang diwariskan ke anak-anaknya. Padahal di jaman Perjanjian Baru tidak ada lagi keturunan Lewi, semua kita adalah iman-imam Tuhan (1 Petrus 2:9). Boleh jadi imam, tapi kalau sudah dirasa membahayakan kerajaan harus segera dijauhkan, dikirim tugas ke pelosok, kandang kecil, jauh dari pusat kekuasaan dan anak-anak perlahan dinaikkan sebagai pangeran mahkota.
Ciri kelima hanya mencari pekerja full heart dan mengurangi full timer yang digaji. Alasannya agar motivasi mereka murni, bukan hamba uang. Jadi harus berharap ke Tuhan saja—sehingga uang yang masuk sangat sedikit yang keluar untuk menggaji full timer, kalaupun ada gajinya jauh dibawah UMP, berani nuntut naik maka akan ditendang jauh-jauh. Mereka selalu menuntut persembahan, menuntut orang untuk memberi, menabur, tetapi tidak pernah menunjukkan belas kasihan dalam hal uang. Kalau minta galak dan sadis, giliran memberi berkelit, mengelak dengan sejuta alasan yang kedengarannya sangat rohani.
Ciri keenam semua ujung-ujungnya duit, khotbah ngalor ngidul, ujung-ujungnya persembahan, nabur, buah sulung, P10. Persis pedagang obat keliling; muter-muter main sulap ujung-ujungnya jual obat. Pembicara yang diundangpun semua satu aliran, satu ilmu, satu guru, satu jurus: uang, uang, uang; beri, beri, beri; tabur, tabur, tabur.
Ciri ketujuh, selalu omong tentang menabur dan memberi, tetapi tidak pernah ada keterbukaan tentang keuangannya sama sekali. Mintanya terang-terangan tiap saat, pertanggung jawabannya gelap gulita dan tertutup rapat.
Jadi yang jangan terjebak dengan kalimat mengutamakan Tuhan yang ditanamkan lewat rasa nyaman yang dibuat dalam ibadah terhadap Tuhan dan firmanNya, dan rasa bersalah palsu diframing oleh para serigala karena tidak menuruti permintaannya. Perintah Tuhan diabaikan, tapi permintaan dan tuntutan pemimpin harus ditaati karena ada kutuk/hukuman menunggu.
Selamatkan dirimu, lepaskan dirimu dari mulut serigala, karena kalau sudah luka parah oleh gigitan serigala belum tentu bisa sembuh lagi, apalagi kalau sudah jadi santapan serigala. Run, boy, run!