Kematian
Bulan lalu saya pergi melayat sebanyak empat kali ke rumah duka. Yang pertama atas meninggalnya ibu dari teman sekelas. Kedua, atas meninggalnya teman SMP/SMA karena leukemia. Ketiga, atas kematian teman SMP/SMA karena kanker paru-paru. Yang keempat, atas meninggalnya ibu dari teman sekolah juga karena usia lanjut.
Pengkhotbah 7:2 — Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya.
Pengkhotbah 7:4 — Orang berhikmat senang berada di rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukaria.
Di rumah duka kita dihadapkan kepada fakta dan realita yang tidak bisa dihindari manusia dan akan pasti datang kepada semua orang yang hidup—kecuali ketika rapture/pengangkatan—entah itu cepat atau lambat, melalui berbagai macam cara dan peristiwa. Ada kematian yang tidak disangka-sangka karena mendadak dan semua dalam keadaan baik; kesehatan baik, kondisi fit. Ada kematian yang disesali banyak orang karena melihat bahwa almarhum masih muda, secara pribadi belum menikmati hasil kerja kerasnya, keluarga, anak-anak masih belum mentas, anak-anak belum sungguh-sungguh di dalam Tuhan. Ada kematian yang tetap meninggalkan duka mendalam, walau keluarga seperti sudah dipersiapkan karena tahu penyakit tak tersembuhkan yang menimpa orang terkasihnya. Tetapi kehilangan tetap sering tidak mudah untuk diterima. Dan rasa sedih dan kehilangan yang paling berat pasti dialami orang terdekat yang mengasihi. Kalau orang terdekat yang tidak mengasihi, apalagi sampai memusuhi, bisa jadi malah mendatangkan kelegaan dan terlepas dari belenggu dan beban.
Lukas 13:1-5 — Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. Yesus menjawab mereka: “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya daripada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu?
Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian. Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya daripada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem?
Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.”
Di sini kita melihat persepsi tentang kematian karena aniaya, kecelakaan, musibah—maka yang meninggal akan dicap dan dihakimi sebagai pendosa. Dengan kata lain kalau orang benar tidak akan mengalami kematian seperti itu, mereka akan mengalami kematian secara alami karena usia tua. Kalau memang pandangan itu benar adanya, bagaimana dengan kisah Lazarus dan orang kaya?
Lukas 16:19-31 — “Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.
Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.
Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu. Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.”
Kita melihat ada yang sangat paradoks dengan pandangan orang Israel yang ditulis di Lukas 13 dengan apa yang dikatakan Yesus dalam cerita Lazarus dan orang kaya. Abraham sendiri mengatakan bahwa orang kaya ini menerima segala yang baik dalam hidupnya. Kita tidak tahu apakah orang kaya ini menerima warisan dari orang tuanya sebagai given achievement, atau membangun kekayaannya sendiri (self achievement). Yang kita tahu Abraham mengatakan dia telah menerima segala yang baik; kalaupun dia membangun sendiri kekayaannya, pastilah semua didapat dengan mudah.
Kalau dalam pandangan berdasar teologi kesuksesan, terobosan, percepatan dan promosi, orang kaya ini adalah orang benar, karena ia sangat diberkati—tidak mungkin orang diberkati kalau bukan orang benar!
Wait.., what?!
Itu doktrin yang sudah sangat umum kita dengar, karena kebenaran diukur dengan materi—sehingga kita melihat orang fokus untuk menjadi kaya, bukan fokus menjadi orang benar—dan semua dilakukan bukan dengan kasih dan ketulusan tetapi dengan motivasi pelipat-gandaan. Jadi jangan heran kalau mereka sangat menyukai ajaran tentang aneka macam persembahan; persepuluhan, aneka taburan, buah sulung, tatangan dan aneka persembahan lainnya. Dan mereka dengan bersegera tanpa mikir menggelontorkan banyak uang mereka sebagai persembahan. Benarkah itu persembahan? Itu pancingan, money game, mental pemakan rente/riba, bukan persembahan—karena memberi dengan motivasi harapan dikembalikan berlipat-ganda.
Pola pikir yang menyederhanakan segala sesuatu; kasih uang akan terima uang, kasih banyak akan terima banyak. Pelayan tamak ketemu orang tamak jadi gathuk, karena yang satu dengan ketamakannya mudah memperdaya dan menguras harta orang tamak. Orang tamak akan merasa dibukakan jalan lewat ajaran persembahan-persembahan materi untuk mencapai keinginan hatinya yang tamak. Pelayan tamak mendapatkan apa yang dia inginkan, sedang si orang tamak harus terus bermimpi, tidak sadar hartanya dikuras. Teruslah bermimpi, jangan bangun, karena ketika bangun, kenyataan pahit menunggu; harta sudah terkuras cuma ditukar mimpi-mimpi kelimpahan dan pelipat-gandaan.
1 Korintus 13:3 — Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.
Saya penasaran apa penyebab orang kaya ini tidak menunggu pengadilan Kristus (2 Korintus 5:10), tetapi langsung lewat jalan toll masuk Hades/alam maut dan disiksa. Apakah harta yang dia miliki diperoleh dengan cara tidak benar? Apakah dosa menjadi orang kaya? Apakah sukacita yang dia adakan adalah pesta pora, kemabukan, hawa nafsu? Sehingga saya meneliti ayat ini dalam bahasa Yunaninya—bahasa yang dipakai menulis Alkitab Perjanjian Baru adalah bahasa Gerika/Yunani—tidak ada kata terjemahan yang hilang dalam Alkitab Bahasa Indonesia. Tidak ada ditulis orang kaya yang jahat atau kejam, hanya orang kaya. Dari cara berpakaiannya? Dia berpakaian jubah ungu dan lenan halus—wajar dari Perjanjian Lama orang kaya, orang berkedudukan berjubah ungu dan lenan halus. Setiap hari bersukaria dalam kemewahan. Kata bersukaria = euphoriano—kata euphoria/eforia bukan kata yang asing, karena belakangan ini banyak dipakai. Eforia = sangat bersuka-cita, sukacita yang berlebihan. Kita tidak tahu pasti alasannya bersukaria setiap hari, yang jelas disebut bersukaria, bukan sukacita. Bisa jadi dia benar-benar bangga, fokus, mabuk dan terobsesi dengan kekayaan yang ada padanya.
Dua puluhan tahun lalu saya pernah dekat dengan orang seperti ini. Waktu dia jemput saya, dia ajak keliling dan sepanjang jalan dia tunjukkan properti miliknya; gedung-gedung yang lagi disewa bank swasta; ruko, rumah itu-ini yang dia miliki. Kemudian saya diajak makan ke restorannya, dia juga cerita sudah memegang franchise jaringan salah satu resto asal Amerika yang akan segera dia buka. Semua yang dia ceritakan adalah harta benda miliknya. Saya jadi sangat tidak nyaman karena saya marga Ben Yeshua Hamashiach, bukan marga Ben Alu. Waktu makan dia langsung nembak, bilang mau cari suami yang seperti saya. Weleh, salah orang, dia.
Dari kedua orang tua, saya diberi pengarahan yang bertolak belakang. Ibu saya mengajar menikahlah dengan orang kaya, supaya tidak punya ipar-ipar keturunan Tarzan yang akan bergelantungan terus ke saya. Dari ayah, beliau menyampaikan jangan menikah dengan orang kaya, bisa diperlakukan seperti kuli oleh mertua dan ipar-ipar. Saya lebih setuju dengan pandangan ayah saya, karena dalam pelayanan saya melihat sendiri hal itu terjadi. Jangankan pasangan dengan latar belakang yang jomplang secara strata sosial, yang berasal dari tangga strata sosial yang tidak jauh bedapun banyak diperlakukan buruk oleh pasangannya. Ngeri, boss.
Orang kaya itu bersukaria dalam kemewahan setiap hari.
Salahkah hidup dalam kemewahan? Tergantung motivasi dan tujuan. Karena ada istilah yang kalau saya tidak salah ingat: end purpose dan end use. Contoh end use: kita pakai jam tangan karena memang butuh untuk mengetahui jam dan waktu. Jam merk apa saja yang baik akan menunjukkan waktu yang akurat. End purpose: pakai jam mewah agar orang menaruh hormat dan tidak memandang kita rendah. Untuk menunjukkan pencapaian yang sudah kita raih; ada unsur pamer—minta dihormati, minta dihargai, tidak boleh diperlakukan sembarangan.
Di depan rumah orang kaya itu ada seorang pengemis penyakitan bernama Lazarus yang berharap bisa mendapatkan remah-remah (kata remah-remah ada di versi Bahasa Yunani, tapi tidak ada di Alkitab ITB kita) yang jatuh dari meja orang kaya. Tetapi justru anjing-lah yang menunjukkan kasih kepadanya, bukan si orang kaya; jelas anjing-anjing bukan datang untuk menggonggong atau menggigit dia, tetapi menjilat boroknya. Kalau kita memelihara anjing, maka kita tahu anjing juga menyatakan kasihnya dengan menjilat-jilat tuannya. Jadi kalau mau terus terang, dan tidak ditutup-tutupi, hewan yang dianggap orang Yahudi najis, rendah—dan banyak orang/etnis bangsa yang mewarisi pandangan ini, karena kalau dimaki sapi, ular, kerbau rasanya tidak akan sesakit dan serendah dimaki dengan nama hewan satu ini. Betul atau benar? Bisa dibayangkan manusia dikomparasikan dengan anjing yang dianggap binatang paling hina dan rendah dan ternyata manusia kalah dalam menunjukkan kasih dari hewan ini?
Yehezkiel 16:49 — Lihat, inilah kesalahan Sodom, kakakmu yang termuda itu: kecongkakan, makanan yang berlimpah-limpah dan kesenangan hidup ada padanya dan pada anak-anaknya perempuan, tetapi ia tidak menolong orang-orang sengsara dan miskin.
Hal yang paling melekat di pikiran kita tentang kejahatan orang Sodom adalah dosa seks yang menyimpang, karena kata sodomi berasal dari kata “sodom”. Tetapi kalau kita menyelidiki Alkitab, ternyata dosa orang Sodom juga tidak memiliki belas kasihan dan kepedulian sosial kepada orang yang termarjinalkan dan kurang beruntung. Janda Sarfat bisa membagi makanan terakhirnya kepada Elia, sedang orang-orang Sodom yang kaya raya, hidup limpah dan dalam keadaan aman tidak bisa membagi apapun kepada orang sengsara dan miskin. Dan hal yang sama dilakukan orang kaya itu kepada Lazarus. Di dalam bahasa Hokian ada istilah khaki kho khaki—masalahmu ya masalahmu sendiri; atau jaman sekarang sikap EGP-(emang gue pikirin) kepada orang miskin dan orang-orang kurang beruntung.
Lukas 10:29-37 — Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?” Jawab Yesus: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.
Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”
Kita melihat suatu sindiran yang menemplak dari cerita Yesus ini. Imam tidak punya belas kasihan, menular ke orang Lewi juga tidak punya belas kasihan. Dalam pelayanan saya sering mengingatkan untuk berhati-hati mengidolakan orang mimbar dan penjaga kandang domba, karena tanpa sadar kita akan diimpartasi roh yang ada pada mereka. Imam bait tidak ada belas kasihan, acuh terhadap orang yang menderita; maka orang Lewi di bawah dia akan juga melakukan hal yang sama. Perhatikan ayat 29, orang itu tidak tahu siapa sesamanya. Atau dalam pengertian lain, ada dua hal yang bisa kita lihat: dia bingung mengindentifikasi dirinya sebagai makhluk apa dan dia menganggap orang lain yang susah, miskin berbeda dengan dirinya. “Aku yang diberkati pastilah orang benar, pelaku firman Tuhan, sedang orang susah pasti orang berdosa yang hidup dalam kutuk, sehingga berkat jauh dari pada mereka.”
Begitukah?
“Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”
Perhatikan ayat 29, ahli Taurat itu masih bingung siapa sesamanya manusia. Tetapi di ayat 36 Yesus tidak menunjukkan bahwa orang yang jatuh di tangan penyamun adalah sesama si ahli Taurat yang perlu ditolong. Ia malah bertanya siapa sesama manusia dari orang yang yang jatuh ke tangan penyamun itu.
Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.”
Saya sarankan pembaca untuk berulang-ulang membaca perikop cerita ini agar bisa mengerti poin-poin yang selama ini terlewatkan dalam ratusan khotbah dari perikop ini. Jadi si ahli Taurat mengerti bahwa yang disebut manusia adalah orang yang menunjukkan belas kasihan kepada manusia lain yang menderita. Yang tidak bisa menunjukkan belas kasihan bisa jadi bukan manusia karena tidak merasa dirinya sebagai sesama manusia.
Astaga, koq kasar begini omongan pak Asen?
Ini kata ayat firman Tuhan, dengan sangat gamblang, bukan kesimpulan saya sendiri. Silahkan baca berulang Lukas 10:25-37.
Dalam membina persekutuan pendewasaan rohani selama 8 tahun di beberapa kota, ada banyak suka dukanya; ada kejengkelan, kekecewaan, kemarahan, keputus-asaan dalam membina persekutuan. Ada kejengkelan karena yang datang berharap dapat jalan pintas solusi masalah mereka. Ada kekecewaan karena banyak yang tetap fokus hanya pada terobosan, promo dan percepatan mencapai keinginan hatinya. Ada kemarahan karena ada yang mengacau persekutuan dari dalam, menggabungkan PD kita dengan PD lain yang memiliki tujuan yang sama sekali bertolak belakang—waktu orang menyembah mereka sibuk main hp, sibuk motret sana sini; diajak pelayanan kerjanya umbar janji, kemudian kita yang disuruh tanggung jawab atas janji-janji yang dia buat; sibuk menceritakan kesuksesan dan kekayaannya kepada orang-orang. Ada keputus-asaan karena diajak untuk membangun hubungan karib dengan Tuhan sulit sekali; mengubah paradigma dari dituruti Tuhan menjadi mentaati Tuhan—sulitnya minta ampun.
Tetapi ada penghiburan luar biasa ketika mereka menunjukkan kasih kepada orang-orang yang perlu ditolong. Di persekutuan waktu itu ada tim dokter untuk bakti sosial baik untuk Jawa Tengah maupun Jawa Timur. Ketika diinformasikan bahwa ada gereja yang perlu dibantu, dengan cepat dana terkumpul—walau saya tahu banyak dari mereka sedang mengalami pergumulan di bidang keuangan; ada DNA rohani yang berhasil diwariskan kepada mereka.
Yakobus 2:13 — Sebab penghakiman yang tak berbelas kasihan akan berlaku atas orang yang tidak berbelas kasihan. Tetapi belas kasihan akan menang atas penghakiman.
Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.
Orang yang di dalam hidupnya tidak menunjukkan belas kasihan sekarang memohon untuk mendapat belas kasihan—dan kita tahu dia tidak mendapatkannya. Di awal Covid-19 masuk ke negara kita, Roh Kudus dengan jelas mengatakan bahwa melalui Covid ini Dia juga menguji apakah anak-anak-Nya bisa berbagi dengan orang lain. Atau karena tidak beriman, egois, hanya memikirkan dan mementingkan diri sendiri, cari selamat sendiri, tidak bisa berbagi dengan orang yang membutuhkan. Dan dalam suatu sesi doa pribadi Dia juga menyingkapkan bahwa the worst is yet to come. Akan ada penyakit di dada yang lebih mematikan dari Covid-19. Tentang ini bisa dibaca di sesi nubuatan: Corona dan Janda Sarfat. Bahkan ketika saya digerakkan untuk menulis renungan ini saya bertanya-tanya apakah penglihatan saya tentang demikian banyak mayat yang terapung di laut itu akan segera terjadi—terlepas dari banjir besar yang Dia perlihatkan dalam penglihatan minggu lalu di pulau S.
Mari memeriksa diri—walau kita sudah beribadah dan melakukan Firman Tuhan sebagai umat Tuhan, sudahkah kita menunjukkan belas kasihan kepada sesama yang membutuhkan.
Kolose 1:10 — sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah,
Mari menunjukkan belas kasihan kepada sesama, selama waktu masih ada. Ingat janda Sarfat terpelihara dari kematian karena kelaparan bukan dengan menyimpan, tetapi karena berbagi. Praktek, yuk, ke orang-orang sekitar kita yang kita tahu memang butuh bantuan.
Amsal 11:24 — Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.