Give or Die

Beberapa hari ini saya menerima beberapa link Youtube dan Instagram tentang polemik khotbah seorang pembicara yang mengajak/menganjurkan/menantang jemaat untuk memberikan uang ke gereja dengan jumlah yang dia sudah tentukan jumlahnya. Dan khotbah-khotbah seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang asing, aneh atau baru, karena sekarang makin sering, makin gencar, makin merata khotbah seperti itu—dengan iming-iming akan naik ke next level bila melakukannya. Karena saya hanya mendapat cuplikan khotbah yang kurang dari tiga menit, saya tidak mendapat gambaran yang cukup jelas tentang isi seluruh khotbahnya; akan sangat naif bila saya kemudian langsung memberikan komentar, baik positif atau negatif tentang hal itu.

Jadi saya hanya akan share beberapa pengalaman saya sebagai pembicara yang sering diundang untuk pelayanan firman di banyak kandang domba, kambing bahkan sarang serigala. Untuk memberikan perspektif dan informasi kepada jemaat awam tentang kejadian di belakang layar dan di bawah mimbar—sebelum dan sesudah khotbah.

Saya berharap ini akan memberi tambahan pengetahuan, informasi, sehingga perspektif terhadap khotbah tentang persembahan lebih presisi—terlepas dari disinformasi yang hanya menghasilkan antipati maupun justifikasi yang dangkal.

Keluaran 35:22-35 — Maka datanglah mereka, baik laki-laki maupun perempuan, setiap orang yang terdorong hatinya, dengan membawa anting-anting hidung, anting-anting telinga, cincin meterai dan kerongsang, segala macam barang emas; demikian juga setiap orang yang mempersembahkan persembahan unjukan dari emas bagi TUHAN. Juga setiap orang yang mempunyai kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi, lenan halus, bulu kambing, kulit domba jantan yang diwarnai merah dan kulit lumba-lumba, datang membawanya. Setiap orang yang hendak mempersembahkan persembahan khusus dari perak atau tembaga, membawa persembahan khusus yang kepada TUHAN itu, dan setiap orang yang mempunyai kayu penaga membawanya juga untuk segala pekerjaan mendirikan itu.
Setiap perempuan yang ahli, memintal dengan tangannya sendiri dan membawa yang dipintalnya itu, yakni kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus.
Semua perempuan yang tergerak hatinya oleh karena ia berkeahlian, memintal bulu kambing. Pemimpin-pemimpin membawa permata krisopras dan permata tatahan untuk baju efod dan untuk tutup dada, rempah-rempah dan minyak untuk penerangan, untuk minyak urapan dan untuk ukupan dari wangi-wangian. Semua laki-laki dan perempuan, yang terdorong hatinya akan membawa sesuatu untuk segala pekerjaan yang diperintahkan TUHAN dengan perantaraan Musa untuk dilakukan–mereka itu, yakni orang Israel, membawanya sebagai pemberian sukarela bagi TUHAN. Berkatalah Musa kepada orang Israel: “Lihatlah, TUHAN telah menunjuk Bezaleel bin Uri bin Hur, dari suku Yehuda, dan telah memenuhinya dengan Roh Allah, dengan keahlian, pengertian dan pengetahuan, dalam segala macam pekerjaan, yakni untuk membuat berbagai rancangan supaya dikerjakan dari emas, perak dan tembaga; untuk mengasah batu permata supaya ditatah; untuk mengukir kayu dan untuk bekerja dalam segala macam pekerjaan yang dirancang itu.
Dan TUHAN menanam dalam hatinya, dan dalam hati Aholiab bin Ahisamakh dari suku Dan, kepandaian untuk mengajar. Ia telah memenuhi mereka dengan keahlian, untuk membuat segala macam pekerjaan seorang tukang, pekerjaan seorang ahli, pekerjaan seorang yang membuat tenunan yang berwarna-warna dari kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus, dan pekerjaan seorang tukang tenun, yakni sebagai pelaksana segala macam pekerjaan dan perancang segala sesuatu.

Kita akan membatasi bahasan kita pada persembahan untuk keperluan ibadah, entah berupa bangunan, biaya kegiatan dan operasionalnya. Di ayat-ayat di atas ketika Musa diperintahkan Tuhan untuk membangun Tabernakel, Musa mengumumkannya kepada bangsa Israel. Tidak ada fishy words agar mereka termotivasi segera memberi, memberi lebih banyak dengan iming-iming: kalau Tabernakel sudah dibangun, kita akan lebih cepat sampai Kanaan, kalau engkau memberi lebih banyak maka Tuhan tidak hanya akan menurunkan manna, tetapi ada bonus latkes, sufganyiot, falafel, hummus, za’atar bahkan fish and chips. (Sekedar informasi fish and chips adalah makanan khas Yahudi Shepardic di Portugal yang menyingkir dari Inquisition Spanyol ke British Isle pada abad 16). Beri lebih banyak maka Tuhan akan mengubah padang gurun menjadi tanah subur bahkan taman buah-buahan.

Kita melihat tidak ada janji angin surga ketika Musa mengumumkan tentang perintah membangun Tabernakel. Tidak ada jumlah besaran persembahan yang ditentukan kepada tiap individu. Tidak juga ada ancaman bila tidak memberi hukuman, kutuk, malapetaka, penyakit akan menimpa mereka yang tidak memberi. Sebaliknya kalau memberi semua akan mendapat promosi, percepatan, terobosan dan pelipat-gandaan. Semua yang memberi karena terdorong hatinya dan memberi dengan sukarela.

Jadi kita memakai tolok ukur Alkitabiah tentang pemberian untuk pembangunan rumah ibadah seperti yang terjadi waktu pembangunan Tabernakel di padang gurun. Semua hal yang melebihi apa yang tertulis adalah hasil kreatifitas manusia. Kita bisa melihat beberapa sebab permintaan persembahan yang disertai janji angin sorga promosi, percepatan, terobosan dan intimidasi malapetaka bila tidak memberi:

1. Visi itu bukan dari Tuhan tetapi lebih sebagai obsesi pribadi yang dijustifikasi seakan untuk kemuliaan Tuhan, sehingga tidak ada provisi dari Tuhan. Ingat ketika Tuhan memberikan visi, Dia juga memberikan provisi, semua yang dibutuhkan. Sehingga tidak perlu mengemis, memaksa, mengancam, ataupun obral janji yang tidak ada dasar ayatnya di Alkitab. Kita sering mendengar kalimat “persembahan adalah pembuka pintu surga”. Di mana ada ayat yang menjadi dasar pengajaran ini? Kita tahu kita diselamatkan oleh iman percaya kita bukan oleh perbuatan kita. Apa pintu surga modelnya buka tutup; buka waktu ada persembahan, tutup waktu tidak ada yang memberi? Memangnya surga itu tempat segala pusat korupsi yang semuanya hanya berdasarkan persembahan materi, uang, kekayaan?

Efesus 3:12 — Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya.

Ibrani 10:19 — Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri, dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah. Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.

Adakah dituliskan bahwa persembahan adalah pembuka pintu surga? Tuhan Yesus sudah membuka akses bagi kita semua untuk masuk ke tempat kudus untuk menghadap kepada Bapa. Koq, praktek yang diajarkan banyak orang seperti balik ke praktek penyembahan berhala dengan aneka persembahan sajian?

2. Kurangnya iman percaya si penerima tugas atau visi.
Sekalipun rencana yang akan dikerjakan 100% memang dari Tuhan, tetapi motivasi, sikap hati dan iman si pengemban amanat bisa sangat mempengaruhi cara visi itu dikerjakan. Ketika seseorang menjadikan visi sebagai obsesinya pribadi maka ia tidak akan memiliki kesabaran untuk bekerja sama dengan Tuhan untuk mewujudkannya. Ia akan memakai kekuatannya sendiri untuk membuatnya terealisasi dengan berbagai cara termasuk dengan obral angin surga agar orang memberi maupun tebar ancaman dan kutuk kepada yang tidak mau memberi. Visi yang dijadikan obsesi pribadi akan berubah menjadi berlebihan, lebih besar, lebih mewah, lebih spektakuler dari yang dibutuhkan karena gengsi, kesombongan, prestasi pribadi melekat di dalamnya. Keberhasilan mewujudkan wacana dan rencana akan mengangkat namanya walau dibungkus kertas kado bertulisan: “Semua bagi kemuliaan Tuhan.”

Yeremia 17:9-10 — Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.”

Kita bisa melihat bahwa hati manusia bisa menipu orang itu sendiri. Banyak pelayan tamak memakai pembenaran bahwa pelayan harus hidup berlimpah sebagai bukti Tuhan memberkati mereka, dan sebagai bahan promosi agar jemaat percaya dan mengikuti apa saja kata mereka dan mendukung apapun rencana mereka. Untuk itu target pertama adalah jadilah kaya dengan mengajarkan aneka macam persembahan yang harus diberikan oleh jemaat. Setelah kaya, makin banyak orang akan terpesona dengan kesuksesan materinya, dan makin banyak orang akan mengikutinya. Sehingga makin mudah mengumpulkan kekayaan, jauh melebihi yang sebelumnya. Maka jadilah dia orang yang sangat kaya raya karena pelayanan, sementara banyak pengikutnya tetap miskin, bahkan makin miskin karena terus memberinya. Amsiong tenan.

Kisah Para Rasul 24:16 — Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia.

2 Timotius 1:3 — Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam.

Saya ingat di satu fase awal pelayanan saya, hati saya sendiri menipu saya. Dalam pelayanan, saya sangat banyak menolak persembahan yang diberikan dalam pelayanan. Saya berprinsip agar pelayanan saya murni, tidak memikirkan dan berharap upah, tetapi hanya berharap kepada Tuhan. Suatu ketika dalam doa Roh Kudus mengatakan: “Kamu sombong!” Spontan saya jawab: “Saya tidak sombong Tuhan, bagaimana bisa sombong, pelayanan saya cuma pelayanan desa dan pelosok.” Roh Kudus tidak melayani saya berdebat. Seingat saya, hampir dua tahun kemudian Dia menjelaskan kesombongan yang Dia lihat ada apa saya. Ternyata saya menolak menerima pemberian orang-orang yang memberkati saya karena gengsi—saya merasa direndahkan kalau menerima pemberian mereka. Saya bekas pimpinan dengan demikian banyak bawahan, saya yang menggaji banyak orang. Sekarang saya harus menerima pemberian, itu merendahkan harkat dan martabat saya. Hati saya telah menipu pemikiran, pandangan, alasan dan reaksi saya.

Mazmur 26:2 — Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku.

Beberapa tahun lalu juga Roh Kudus pernah menyuruh saya untuk tidak lagi menerima undangan pelayanan di suatu komunitas. Saya bingung apa alasan saya untuk menolaknya. Pengurusnya tidak pernah memanfaatkan saya seperti di tempat lain dengan memaksa saya melayani barisan antrian doa-doa pribadi yang panjang. Tidak pernah mereka nitip pesan sponsor yang harus saya sisipkan dalam khotbah untuk kepentingan mereka. Sikap mereka juga tidak seperti sikap kebanyakan orang yang mengundang saya—yang sangat terasa dan terlihat—kalau kamu butuh uang, layani kami, khotbah harus singkat, enak didengar, jangan khotbah keras utak-utik dosa, yang paling penting doa pribadi dan nubuat pribadi untuk setiap yang hadir, tanpa batas waktu sampai jam berapapun antrian selesai.

Komunitas ini juga banyak dari kalangan jet set. PK nya beberapa kali lipat dari yang diberikan kandang domba, kandang kambing apalagi sarang serigala. Saya kenal baik dengan donator tunggalnya dan keluarga besarnya. Salah satu sepupunya adalah teman dekat saya. Ini membuat perintah itu tidak mudah untuk dilaksanakan. Roh Kudus menjelaskan mengapa Tuhan melarang saya, tidak boleh lagi menerima undangan pelayan di sana. Di hadapan Tuhan ternyata si donatur tunggal membuka dan membiayai pelayanan karena gengsi, tidak mau merendahkan diri di hadapan Tuhan dan tidak mau dipandang rendah. Suaminya selingkuh dan sudah dua kali menikah lagi, jadi total beristri tiga. Si istri bukannya datang kepada Tuhan merendahkan diri dan memohonkan pertolongan Tuhan agar rumah tangganya dipulihan, tetapi dengan kekayaan yang ada padanya langsung membuka suatu pelayanan, dia menggambarkan dirinya sebagai wanita yang gagah perkasa, cinta Tuhan, walau rumah tangga amburadul bisa melayani umat Tuhan. Padahal di mata Tuhan motivasinya adalah harga diri yang tidak mau diinjak-injak oleh kelakuan suaminya dengan dua istri muda lainnya. Dia menolak proses perendahan, malah mengangkat diri dengan terjun dalam pelayanan. Dia tertipu oleh hatinya sendiri, sama seperti saya dulu.

Ingat, kita bisa melakukan perbuatan yang baik tetapi dengan motivasi yang salah. Manusia hanya bisa melihat, kagum dan memuji perbuatan yang kita kerjakan, tetapi jarang bisa melihat motivasi dari hati kita yang paling dalam yang menggerakkan kita melakukannya. Manusia bisa memuji kita, tetapi belum tentu kita benar di hadapan Tuhan.

Roma 2:16 — Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus.

3. Persaingan, ego manusia, menuhankan kesuksesan duniawi.

Diakui atau tidak, kuda saja perlu dipakaikan kacamata agar pandangannya tidak terlalu melebar, apalagi manusia. Kita sering bukannya ingin menjadi seperti Kristus, tetapi malah ingin menjadi seperti idola kita. Bukan berhenti sampai di sana, banyak pelayan malah ingin melebihi pelayan lain dalam hal kuantitas domba dan kambing, sehingga tanpa sadar jadi sarang serigala. Ingin menjadi legenda, meninggalkan warisan bagi keluarga dari harta persembahan para domba debil. Domba tetap dan makin melarat, dia jadi konglomerat.

Pengkhotbah 2:10 — Aku tidak merintangi mataku dari apapun yang dikehendakinya, dan aku tidak menahan hatiku dari sukacita apapun, sebab hatiku bersukacita karena segala jerih payahku. Itulah buah segala jerih payahku.

Kembali ke inti sesuai judul renungan ini, dalam banyak undangan pelayanan pemberitaan firman, saya mengalami tekanan entah halus entah terang-terangan untuk menyampaikan pesan sponsor yang dikehendaki pihak pengundang untuk disampaikan kepada jemaat. Dipikir saya pembicara jenis loudspeaker, mereka pengundang jenis microphone, dan PK pelayanan sebagai amplifiernya—makin besar PK makin keras harus menyuarakan pesan sponsor. Celaka, dah.

Di kota B, minggu pagi itu saya mengisi pelayanan firman. Saya selalu datang awal karena saya juga mau beribadah, memuji dan menyembah, bukan sekedar datang untuk berkhotbah. Di pintu si pemilik kandang menunggu saya, bukannya diajak masuk ke dalam untuk ibadah, saya diajak ke pastori. Di sana dia cerita bahkan kantor sudah terlalu kecil buat dia, dan harus bangun yang lebih besar. Renovasi gedung utama juga sedang berlangsung dan belum selesai. Butuh biaya besar, bla bla, bla. Saya merasa tidak nyaman berlama-lama di sana, karena ibadah sudah dimulai cukup lama. Tapi dia belum puas untuk cerita tentang pembangunan dan biaya-biaya. Saya mengerti bahwa dia berharap dalam khotbah nanti saya akan mengingatkan, menghimbau jemaat untuk memberi untuk pembangunan dan renovasi. Saya sudah hafal betul hal-hal seperti ini. Tetapi saya tidak digerakkan untuk menyampaikan pesan-pesan sponsor seperti ini, karena bukan pembicara jenis loudspeaker. Jadi percuma mereka jadi microphone dengan PK amplifier-nya.

Di kota S si pemilik kandang cerita bahwa ada keluarga yang suka mengajak domba-domba lain untuk hadir dalam ibadah di tempat lain, jadi minta tolong saya untuk nanti waktu khotbah menyinggung masalah ini, agar jemaat tertanam di kandang lokal. Di kota J si pemilik kandang sebelum saya naik mimbar cerita dombanya banyak yang tidak bayar perpuluhan, jadi tolong nanti waktu khotbah mereka diingatkan. Bahkan ketika saya pelayanan di Jerman, di kota Dusselldorf, waktu itu kami pinjam gedung gereja orang jerman. Eh, sebelum ibadah dimulai, si pemilik kandang, bule Jerman mendatangi saya dan mengajak saya ke ruang kantornya. Setelah basa-basi dia tanya saya apa yang saya lakukan sebagai pembicara waktu diundang ke kandang orang. Saya katakan saya sampaikan apa yang Tuhan taruh di hati saya. Eh, dia bilang kalau diundang harus tanya si pemilik kandang yang ngundang kita, apa yang kita bisa bantu dia untuk pelayannya. Maksudnya tanya pesan sponsor yang harus disampaikan kepada jemaat. Dalam hati, saya ngeluh berat, koq, isi otak si rambut hitam dan si rambut pirang ternyata sama saja. Padahal saya pikir mereka dari negara maju pasti lebih modern dan cari pikirnya beda. Eh, setali tiga uang, bin sami mawon, alias sami mawon.

Pengkhotbah 1:9 — Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.

Dari pengalaman tidak mau dititipi pesan sponsor, tidak tergerak menyampaikan pesan sisipan, biasanya itu jadi kesempatan terakhir pelayanan di tempat itu. Mungkin si pemilik kandang ngedumel dalam hati: Sabena (such a bloody experience, never again).

Untuk menggerakkan dan mengumpulkan dana ada modifikasi teknik marketing yang bernama Loss Leader yang sering dipraktekan. Si pembicara akan cerita dia pernah digerakkan Tuhan menyumbang/memberi sekian besar, atau di kesempatan itu langsung menyumbang untuk kandang lokal sekian. Setelah itu dia akan meminta jemaat memberi, dimotivasi oleh cerita atau tindakan di depan mata, maka domba idiot/debil akan berbondong-bondong memberi. Jadi keluar duit sebagai pancingan, kembaliannya dapat amplop-amplop tebal.

Kan harus jadi ular ya, om?
Ngawur kamu. Cerdiknya harus seperti ular, jadi tahu trik-trik ular, jadi aman dari belitan dan tidak jadi makanan ular, gitu.
Ooooo gitu ya.

Jadi buat orang awam tidak usah heran, kagum, terpesona, koq khotbah si pembicara tamu sesuai dengan kebutuhan kandangmu saat ini. Wong loudspeaker kerjanya cuma keluarkan pesan dari microphone, koq. Apa ajaibnya, makin besar watt amplifier PK-nya, makin panjang, detail, dan makin dikoyok-koyok untuk memberi—entah dengan janji pelipat gandaan, naik level dari goblok jadi idiot. Kalau masih mikir-mikir juga maka ancaman kutuk, hukuman, kehancuran usaha, kesehatan dll akan ditebarkan. Masih tidak mempan, ganti taktik, undang pembicara yang lebih diurapi lagi dalam mengosongkan dompet domba-domba bego. Lu makin miskin, gua makin kaya. Terjadi perpindahan harta dari orang fasik ke orang benar? Huahahahahahaha, parah ente, bos.

Dalam pelayanan mimbar sering Roh Kudus mengungkapkan pergumulan, kondisi, kebutuhan jemaat. Seperti tas yang sudah robek, kebutuhan sepatu baru, sepeda, ranjang, meja makan baru dan hal-hal lain. Bila nilai kebutuhannya tidak fantastis, saya biasanya memberi kesempatan kepada jemaaat untuk langsung mengumpulkan dana dan langsung diserahkan kepada yang memang sedang mempergumulkan dan membutuhkan. Tetapi belum pernah Roh Kudus gerakkan atau perintahkan fix amount yang harus ditabur orang tertentu. Apalagi dengan janji-janji yang menggambarkan Tuhan secara tidak layak; beri dulu baru dijawab, tabur dulu baru diberi. Super kacau itu.

Sudah, segini dulu kali ini. Ingat jangan jadi ular, tapi cerdik, tahu trik, tipu daya, tujuan akhir ular, supaya jangan jadi makanan ular.