Derita Karena Anak vs Derita Karena Orang Tua

Tiga hari lalu kami pergi melayat tetangga yang meninggal mendadak karena gejala sesak nafas. Di sana saya bertemu dengan banyak teman bermain waktu kecil dan teman-teman semasa Sekolah Dasar. Ada satu teman yang saya langsung ingat karena postur tubuhnya paling besar waktu di sekolah; dialah yang menjadi ketua geng waktu itu. Ketika dia kelas VI ada sekitar 8 orang murid yang bolos waktu ada kegiatan membuat es campur di sekolah, setelah es campur kelompok kami jadi, kami semua pergi main biliar dan tidak kembali ke sekolah. Waktu itu satu coin/main satu set hanya Rp 25. Di SMP, saya punya lawan tanding main biliar, kami tidak judi, taruhannya cuma yang kalah yang bayar koinnya. Entah kebetulan atau tidak, teman itu juga sekarang jadi ketua majelis salah satu gereja.

Keesokannya kelompok kami yang bolos dijemur guru di lapangan sekolah dan satu-satu ditempleng pak guru—pas sampai giliran saya, gurunya tidak menempleng, karena postur saya yang paling kecil mungil. Mungkin kasian atau menganggap saya cuma ikut-ikutan murid lain yang lebih tua. Saya masuk SD pada saat umur 5 tahun—di jaman itu untuk masuk SD salah satu syaratnya tangan kanan harus bisa memegang telinga kiri lewat ubun-ubun, kemudian ada tes lain sebelum diijinkan masuk kelas 1 SD. Teman-teman saya semua di atas umur saya waktu masuk SD, ada yang umur 9 tahun baru masuk SD, sehingga saya jadi yang paling kecil mungil.

Setelah omong-omong menanyakan kondisi dan keadaan masing-masing, teman saya mulai menceritakan tentang keadaan ekonominya yang remuk; istrinya bekerja di juragan ikan segar, tidak menerima upah tunai, tetapi mendapatkan upah berupa ikan yang kemudian dijual di pasar yang jaraknya sekitar tiga kilometer dari tempatnya bekerja; sedangkan dia menjadi tenaga kasar. Mereka tinggal di rumah yang disewa bulanan Rp 300.000/bulan. Saya kaget mendengar kondisi hidup mereka, karena saya ingat dulu orang tuanya yang tinggal di gang sebelah dari rumah kami punya cukup banyak bidang tanah dan sawah.

Pada saat dia mulai cerita tentang anak lakinya, matanya mulai berkaca-kaca dan berkali-kali menarik nafas panjang—anak lakinya yang menghabiskan semuanya; dua mobil, beberapa sepeda motor, banyak bidang tanah dan sawah—semua dijual anaknya, dan uangnya bukan untuk usaha tetapi untuk foya-foya. Semua uang hasil penjualan habis tidak berbekas. Bahkan dia cerita tadi sore baru memberikan uang ke anak lakinya untuk membeli beras.

Saya jadi teringat akan seorang bapak yang terbaring di rumah sakit sudah beberapa bulan karena vertigo parah. Bapak ini tidak bisa buka mata, karena setiap buka mata dia rasa pusing dan muntah. Waktu teman yang kenal baik dengan dia meminta bantuan doa, saya mendapat kata: “sakit hati.” Teman itu kemudian menceritakan bahwa memang si bapak sangat sakit hati kepada anak lakinya yang sudah berkeluarga. Si anak masih tinggal bareng dengan dia, tidak mau bekerja, kerjanya hanya keluyuran sampai tengah malam. Karena pintu sudah dikunci, dia lompat tembok untuk masuk ke dalam. Waktu dimarahi dan disuruh kerja dia jawab: “Saya tidak pernah minta dilahirkan, jadi ayah yang mesti tanggung jawab semua.” Terlalu lama si bapak ini menderita karena sikap dan perbuatan si anak, sampai kemudian merusak kesehatannya. Kabar terakhir yang saya dengar dari teman, si bapak kemudian meninggal di rumah sakit.

Sejak jaman Adam kita melihat sudah ada anak yang bikin susah orang tua; Kain bukan hanya iri kepada adiknya, tetapi juga membunuh adiknya.

Di kota S, ada seorang pengusaha cerita ke saya, bahwa kakak dan anak laki si kakak yang tinggal di propinsi lain, ngemplang dia beberapa puluh eMber. Si kakak order barang di dia dan jadi distributornya di propinsi itu, si anak juga kerja barang yang sama. Barang order terus, outstanding numpuk segunung dan tidak pernah bayar, dengan alasan pembayaran masih macet di para langganannya. Si kakak dan anaknya memberi alasan yang sama.

Yang aneh adalah setiap dia menelpon ke telpon rumah si kakak, yang angkat selalu pembantunya, dan selalu bilang juragan lagi keluar. Lama kelamaan timbul kecurigaannya, akhirnya dia selidiki, ternyata si kakak sudah pindah ke rumah mewah dengan deretan mobil built up di garasinya. Si pembantu tua tetap di suruh tinggal di rumah lama untuk menjawab telpon, menutupi fakta bahwa keluarga ini sudah pindah ke perumahan super mewah yang harganya beberapa puluh eMber per unit. Apakah mereka memperolehnya dari ngemplang uang adiknya itu? Hanya mereka, iblis dan Tuhan yang tahu.

Ada lagi di kota J, seorang bapak hanya mempercayakan semua perusahaannya kepada anak laki sulungnya. Walau terbukti ada anak perusahaan yang menjadi core business mereka yang malah hancur di tangan sang kakak. Saya kenal dengan adik lakinya, yang seperti jadi anak tiri, karena semua aset dikangkangi sang kakak dan istrinya. Ketika sang ayah meninggal, mulailah perebutan asset sampai ke pengadilan. Dalam proses sidang, sang kakak meninggal karena covid, dan pengacara sang kakak menyusul kliennya karena covid juga.

Ada istilah uang tidak kenal darah—tidak akan ada hubungan darah yang jadi pertimbangan ataupun diingat. Karena harta, orang siap membuat orang lain berdarah-darah sekalipun mereka sedarah daging.

Ada kasus yang terjadi karena ketamakan salah satu saudara, ada juga keributan yang terjadi karena kurang bijaknya orang tua.

Waktu pelayanan di kota P setelah ibadah, saya diajak mendoakan jemaat seorang opa yang sedang sakit. Ketika mendokan opa itu, saya mendapat impresi di roh saya bahwa anak-anak mau saling bunuh. Saya sampaikan kepada keluarga yang sedang kumpul. Ternyata si opa walau sudah uzur tidak mau membagi asset-asset kepada anak-anaknya. Sehingga anak-anak jadi bermusuhan dan siap-siap berebut harta begitu si opa menghembuskan nafas terakhir. Masing-masing sudah siap untuk menguasai usaha-usaha, rumah-rumah mewah dan asset-asset lain yang masih memakai nama orang tua. Saya sampaikan kepada si opa untuk segera menentukan siapa mendapatkan apa, sehingga anak-anak tidak akan perang setelah dia meninggal.

Ini adalah salah satu contoh bukan semata-mata ketamakan anak-anak, tetapi kurang hikmat dan bijak orang tua, yang tetap mau memegang semua kekayaan sampai hembusan nafas penghabisan.

Ada lagi di kota lain satu keluarga hanya memiliki dua anak; keduanya laki-laki. Orang tua sangat kelihatan berat sebelah, bersikap tidak adil kepada kedua anaknya. Anak sulung begitu disayang dan semua kekurangan, kesalahan tidak pernah dipermasalahkan, sedang anak kedua sering ditegur dan diomel. Padahal semua biaya untuk perawatan orang tua, biaya untuk listrik, air, dll dibayar oleh anak kedua. Tetapi anak kesayangan tetap anak pertama.

Orang tua bisa alasan mencintai semua anaknya, tetapi orang lain bisa melihat jelas perbedaan perlakuan orang tua kepada anak sulung sangat berbeda dengan anak kedua. Alkitab juga jelas mencatat Yakub lebih mengasihi Yusuf daripada anak-anak yang lain. Kalau Yakub saja bisa seperti itu, apalagi orang tua biasa. Tetapi banyak orang tua yang tidak mau mengakuinya.

Ada alasan yang kita mungkin bisa mengerti untuk membenarkan perbedaan perlakuan anak emas dan anak pungut; misal waktu kecil si anak sakit-sakitan sehingga sampai dewasa orang tua tetap lebih mengistimewakannya. Ada lagi alasan yang tidak masuk akal bagi kita orang percaya; waktu si anak lahir enonomi keluarga jadi membaik dan berhasil, sehingga si anak dianggap sebagai pembawa berkat/hoki buat keluarganya dan akan diperlakukan sebaliknya—bisa waktu lahir justru ekonomi keluarga hancur lebur. Katanya kita orang percaya, tapi percayanya ke tahyul dan mitos. Sebagai hamba Tuhan saya masih sering bertemu dengan orang-orang yang masih memegang kepercayaan pada hal-hal seperti ini.

1 Timotius 4:7 — Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.

Ada anak yang tidak bisa mengasihi saudaranya, ada anak yang pernikahannya menyakiti hati orang tuanya.

Esau mengambil dua orang Het menjadi istrinya dan kedua perempuan itu menimbulkan kepedihan hati bagi Ishak dan Yakub (Kejadian 26:34-35).

Di kota S satu keluarga mengundang saya untuk membagi Firman Tuhan pada acara kumpul keluarga besar. Pada saat itu yang hadir dua keluarga besar; keluarga besar yang mengundang saya dan kelurga besar besannya. Setelah selesai ibadah si kakak perempuan, adik perempuan dan sang ibu pindah duduk dekat saya. Si ibu meminta saya untuk menasehati anak lakinya yang sedang siap-siap akan menikah, karena calon tunangan punya tuntutan yang sudah berlebihan; ATM dan nomer PIN si anak sudah dipegang si cewek, dengan alasan agar bisa mengontrol pengeluaran si cowok. Orang tua si cowok sudah memutuskan untuk memberikan satu rumah untuk anak lakinya, tetapi si calon menantu hanya mau menerimanya dengan syarat rumah itu harus direnovasi dulu senilai hampir satu eMber. Kemudian untuk pesta pernikahan si cewek mintanya harus di hotel bintang lima dengan jumlah meja seratus sekian meja, karena katanya dia anak terakhir di keluarganya yang belum nikah. Jadi ini kesempatan terakhir keluarganya untuk mengundang semua orang-orang yang pernah mengundang keluarga mereka. Mau balas semua undangan tapi semua atas biaya si calon menantu cowok. Luar biasa keluarga ini, jurus aji mumpung dan azas manfaat di tingkat sempurna.

Si cowok manut-manut saja akan semua tuntutan si cewek, dan menuntut kakak perempuannya untuk memenuhi semuanya—kakak perempuannya adalah pengusaha sukses. Saya geleng-geleng mendengar itu semua, dalam hati mbatin, ceq gobloke. Tidak bisa membedakan mana true love mana truly stupid love. Belum nikah kartu ATM dengan PIN sudah dikuasai, dikasih rumah tidak mau terima kalau tidak direnovasi dulu sebesar hampir satu eMber. Pesta harus di hotel bintang lima dengan meja seratus sekian untuk undangan keluarga si cewek.

Mestinya sadar kalau si cewek punya drive and demand yang begitu kuat. Sedang si cowok masih bergelantung ke kakak perempuannya. Oke lah dia disayang kakaknya, tapi bagaimana dengan suami si kakak, apa akan diam saja? Sanggupkah nanti dia memenuhi tuntutan si istri setelah menikah?

Ingat, investasi dalam bidang ini, menurut artikel yang saya pernah baca, tidak pernah cuan. Secantik apapun di usia dua puluh setelah tiga puluh tahun kemudian akan jadi seperti apa? Akan jadi berbeda sejalan dengan bertambahnya usia. Beda dengan investasi tanah atau di bidang properti, pasti tiga puluh tahun kemudian akan naik berlipat-lipat.

Secantik apakah si cewek, apakah seperti Lin Ching Hsia waktu main film bersama Chin Han, atau Li Siu Ling bersama Abe? Tapi dari jaman dahulu peyesalan selalu datang terlambat, karena kalau menyesal di awal namanya pertimbangan dan pemikiran. Orang-orang dengan penyakit love sick seperti ini sangat sulit disadarkan—sekalipun dilayani oleh orang-orang dengan karunia pelepasan—tunggu saja setelah kejeduk, baru mulai merasakan akibat kebodohannya.

Tetapi orang-orang seperti ini biasanya punya iman yang luar biasa besar, karena mereka berprinsip nanti kalau timbul masalah besar tinggal telpon hamba Tuhan untuk minta bantuan doa. Beres dah, beban diserah-terimakan ke orang lain. Mereka yang akan mendoakan, mempergumulkannya, yang punya masalah tinggal tunggu semua beres. Ini orang beriman jenis apa ya?

Ada pernikahan anak yang mendukakan hati orang tua, tetapi ada juga pernikahan anak yang menderita karena orang tua.

Saya ingat waktu Carlos Annacondia, penulis buku Listen to Me, Satan! datang ke Indonesia, saya dan beberapa teman bertugas di bagian pelepasan selama kebaktian yang dilayaninya. Ketika ibadah dimulai saya melihat orang yang saya kenal karena pernah konseling ke saya, datang bersama suaminya. Tetapi saya juga melihat di deretan bangku lain WIL dari suaminya juga hadir. Ibadah selesai si suami buru-buru mengantar istrinya pulang, karena akan balik lagi menjemput WIL-nya. Tidak lama sesudah menikah suaminya selalu punya WIL, bahkan di usia yang tergolong lanjut, si suami masih terus menorehkan dan menyempurnakan prestasinya ini—padahal dia tidak ada penghasilan, semua biaya dari istri tapi masih bisa punya WIL.

Waktu sesi konseling saya ingat Roh Kudus mengingatkan bahwa sebelum menikah dengan pria yang jadi suaminya ini, dia sudah punya pacar. Dia akui itu benar, tetapi karena ingin menyenangkan orang tuanya, dia putuskan pacarnya dan menikah dengan pria pilihan orang tuanya. Pria ini dulunya tinggal di jalan utama kota dan dari keluarga yang sangat mapan.

Memang hidup perlu uang, rumah tangga perlu uang, tetapi ketika itu jadi pertimbangan utama dan dijadikan sebagai jaminan hidup, ya begini akhirnya. Hidup manusia kompleks, bukan hanya butuh uang—butuh kerukunan, kasih sayang, kesetiaan juga, toh?

Keinginan menyenangkan orang tua membuat dia harus menderita sampai usia tuanya, karena si suami tipe pria yang sudah tidak bisa kerja, sekaligus tidak merasa cukup dengan satu perempuan.

Dalam pelayanan di suatu kandang, biasanya setelah sesi firman orang-orang akan berbaris untuk didoakan pribadi. Saya ingat seorang ibu yang setelah saya doakan pergumulannya mengatakan kepada saya perkataan yang saya tidak bisa lupakan; “Anak saya yang ini modal saya, Pak.” Anak gadisnya memang sangat cantik, jadi sepertinya ibu ini perpikiran anak ini akan dinikahi orang kaya sehingga kondisi ekonomi si ibu akan berubah. Apa orang kaya pasti bodoh, tidak pilih-pilih jodoh untuk anaknya? Saya kenal satu anak gadis yang menikah dengan orang sangat kaya, tetapi metuanya tidak memberi ruang gerak untuk dia membantu orang tuanya sendiri secara ekonomi.

Memang harus diakui orang berparas cantik lebih punya kans (chance/kesempatan) untuk menikah dengan anak orang kaya. Karena tidak sedikit orang karena merasa cantik memasang price tag tinggi siapa yang akan dia terima cintanya. Tapi ingat, dia cuma anak orang kaya—dia sendiri bukan orang kaya, lho! Kalau orang tuanya kuat menggenggam kekayaannya, lebih dari cengkeraman rajawali yang sedang mencengkeram ular, nyahok dah.

Orang kaya pasti punya kelebihan, yang jelas mereka punya harta lebih dari orang miskin. Memangnya tidak ada kelebihan lain lagi? Memang kalau dipikir dalam perkawinan pasti ada beda pendapat, berantem, ribut—terlepas menikah dengan orang kaya atau miskin.

Kalau gitu realitanya, om Asen, bukankah mending menangis di dalam Mercy dari pada menangis di becak?
Mbuh wes, sak karepmu.

Dulu di awal-awal pelayanan, saya bersedia mendoakan siapapun dan masalah apapun, karena sebagai hamba Tuhan saya merasa terpanggil untuk itu. Dulu saya kerja dari jam 08.00 sampai minimal 23.30 setiap hari, tujuh hari dalam seminggu, cuma dapat gaji. Jadi saya berpikiran, ketika melayani Tuhan harus lebih dari pada itu jam kerjanya, karena mendapatkan keselamatan. Tetapi dengan berjalannya waktu, ketulusan saja tidak cukup tanpa kecerdikan.

Waktu sering pelayanan ke pedalaman Sumatera dan Kalimantan, saya pernah minta hp satu lagi kepada Tuhan agar bisa menambah operator, agar orang-orang susah bisa menghubungi saya. Di jaman itu jaringan operator tidak seperti sekarang. Hp saya jaman itu on dua puluh empat jam, mau jam dua dini hari atau jam empat pagi orang menelpon akan saya layani. Tetapi setelah itu saya mulai sadar bahwa ternyata banyak orang tidak perlu dilayani karena mereka dengan sadar sudah memilih dan tahu konsekuensi dari pilihan yang dibuat.

Kalau ada yang menelpon tentang masalah rumah tangga, karena menikah dengan orang tidak percaya, biasanya jawaban saya pendek saja, “doa sendiri ya.” Saya juga tidak bersedia untuk berdoa untuk peresmian pabrik/tempat usaha yang hanya berharap saya datang untuk berdoa memohonkan berkat dan memberkati usaha mereka karena itu bisa meng-fait acompli Tuhan; di awal perencanaan tidak tanya Tuhan, sudah siap operasi paksa Tuhan harus berkati.

Banyak orang lupa siapa mereka dan siapa Tuhan sehingga memperlakukan Dia dengan tidak layak.
Tugas imam tidak hanya melayani, mendoakan tetapi menyampaikan kehendak dan petunjuk Tuhan sehingga orang tahu apa kehendak Tuhan dalam rencana yang mereka akan kerjakan. Bukan kerjakan dan minta Tuhan harus berkati.

Kembali ke pokok bahasan sesuai judul di atas, kelahiran anak yang diharapkan menggembirakan tetapi kehamilan yang tidak direncanakan bisa menimbulkan konsekuensi di kemudian hari. Kehamilan yang tidak direncanakan dengan berbagai alasan sering akan membuat ciong antar anak dan orang tua.

Seorang ketua pengurus ibadah Kaum Wanita di suatu gereja pernah bercerita kepada saya bahwa dia dan ibunya tidak pernah rukun, omong sebentar pasti jadi pertengkaran. Dia bingung mengapa hubungannya dengan ibunya selalu seperti itu; ia ingin hubungannya baik dengan ibunya, tetapi selalu gagal. Ketika kami berdoa bersama, Tuhan ungkapkan ternyata ibunya mengandung dia pada saat ekonomi keluarganya sedang remuk, sehingga ibunya pernah mbatin, “lagi susah, koq mengandung.”

Saya tanya ibunya tinggal di mana, ternyata satu kota, saya minta dia telpon ibunya untuk menanyakan kebenarannya. Ternyata benar, waktu ibunya tahu dia mengandung, ia sempat kaget dan menolak karena kondisi keuangan keluarga lagi hancur. Itulah celah penolakan yang sudah dibuka si ibu, sehingga sampai anaknya dewasa, menikah, dan punya anak yang sudah dewasa, roh penolakan masih ada pada diri sang anak. Sehingga tanpa sadar setiap interaksi dengan sang ibu, rohnya yang terluka sejak dikandungan karena kehamilan yang ditolak mengekspresikan diri lagi.

Saya sampaikan agar berdoa bersama ibunya dan minta ibunya berdoa untuk memohon ampun atas penolakan yang sudah dia lakukan dan menerima anaknya sepenuhnya. Setelah itu dia harus berdoa mengangampuni ibunya atas penolakan itu, agar hubungan mereka bisa baik.

Menurut sebagian besar budaya Timur, orang tua sering dianggap sebagai pihak yang lebih benar, lebih mengerti dan lebih berhikmat. Dan anak sebagai masih hijau, kurang pengalaman dan bodoh, sehingga kadang semua ditimpakan sebagai kesalahan anak. Tetapi di dalam Tuhan, kakek memanggil Tuhan sebagai Bapa Surgawi, anak juga memanggil dengan sebutan yang sama, cucu dan cicit juga menyebut Tuhan sebagai Bapa Surgawi—semua kita memiliki kedudukan yang sama di hadapan Tuhan. Jadi, ada anak yang membuat orang tua menderita, ada anak yang dibuat menderita karena orang tua.

Orang tua ingat, anak-anakmu bukan milikmu mutlak, mereka anak-anak Tuhan. Berdoalah buat mereka setiap saat. Jangan menjadi orang tua yang ada pada salah satu kubu ekstrim—yang satu mengatur sepenuhnya anak-anak dalam segala hal, kubu lain membebaskan sepenuhnya anak-anak menentukan segala sesuatu sendiri. Berdoalah agar mereka mencari kehendak dan pimpinan Tuhan dan kemudian memilih untuk mentaati Tuhan. Jangan jadikan anak sebagai celengan, karena mereka bukan celeng. Jangan juga mejadikan mereka tumpuan segala harapan, karena hidup mereka juga memiliki kesulitan dan tantangannya sendiri. Harapan dan tuntutanmu akan memberi beban psikologi yang sangat menekan mereka. Supaya beban hidup mereka tidak menjadi terlalu berat. Anak-anak, ingat, seberapapun gagal dan sukses engkau, hidup adalah pilihan. Pilihlah jalan yang Tuhan pilihkan bagimu, jangan membuat jalanmu sendiri.

Yesaya 53:6 — Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

Mazmur 25:12 — Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya.

Untuk belajar, kita tidak perlu membayar mahal lewat pengalaman pribadi, cukup belajar dari kesalahan orang lain, dan jangan lakukan kebodohan yang sama.