Bengong dah
Hari Jumat minggu lalu sekitar jam setengah empat sore seorang teman seperjuangan di persekutuan doa semalaman memberikan kabar yang mengejutkan saya lewat aplikasi WA. Dia menginfokan ada sejumlah dana yang mau ditransfer dan bisa dipakai untuk pelayanan di daerah Mahakam Ulu; terserah mau dipakai untuk membangun gereja atau yang lain. Sejak merebaknya covid-19 memang Persekutuan Doa & Pendewasaan dihentikan dan belum aktif kembali. Saya pertama bingung maksudnya bagaimana, karena saya tahu kondisi keluarga ini ketika pertama kali bergabung di Doa Semalaman sedang mengalami guncangan yang dahsyat; usaha yang mereka rintis sekian lama lenyap tak berbekas. Dan saya ingat teman ini pernah minta maaf datang terlambat ke persekutuan karena mobil masih dipakai anaknya. Dia mengalami proses padang gurun yang tidak banyak orang bisa lulus; dari pengusaha sukses di atas gunung dihempas ke jurang yang dalam—itu pengalaman yang menakutkan, tetapi memberi kesempatan pertumbuhan iman, pengenalan dan kekariban dengan Tuhan yang luar biasa.
Selama pelayanan, ketika saya menyampaikan tentang proses padang gurun, saya mendengar banyak pendeta menentangnya; mengatakan bahwa itu adalah pengajaran sesat, karena padang gurun hanya untuk orang Israel yang keluar dari Mesir. Kita orang Kristen tidak lagi harus melewati padang gurun, karena konon sekarang kita hidup di jaman anugrah—dengan lain kata, semua dalam hidup kita akan berjalan dengan baik dan semua yang kita rencanakan akan terlaksana, semua yang kita inginkan akan tercapai, dengan syarat utama dan paling utama: bayar perpuluhan serta aneka macam persembahan dan taburan. Pokoknya bayar, kasih duit, nabur sebanyak-banyak, semua dijamin beres, sukses, tercapai. Sehingga tidak sedikit kesulitan yang saya hadapi ketika bertemu dengan orang percaya yang sedang mengalami proses padang gurun. Sebagian besar mereka sulit menerima kebenaran bahwa ikut Tuhan ada guncangan, peremukan, pemurnian, ujian, pembentukan yang akan merubah kita menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya; pengenalan, iman, ketaatan dan kekariban pribadi serta kepekaan roh ke tingkat yang sama sekali baru.
Teman yang satu ini karakternya tegas dan keras. Tetapi saya lebih senang berhadapan dengan orang dengan karakter seperti ini, karena saya sendiri karakternya begitu, yaitu kalau lagi normal baiknya luar biasa, tetapi kalau sudah marah, uelek polllll. Lebih mudah memahami orang yang sekarakter dengan kita. Dari pengalaman hidup dan pelayanan berinteraksi dengan orang yang keras memang sukar diubah sehingga Tuhan perlu melakukan shock therapy yang sangat keras untuk bisa menekuk orang berkarakter keras. Tetapi bahan logam yang baik pastilah keras luar biasa. Bandingkan pisau buatan Solingen dan buatan China dengan merk tidak jelas. Atau multitools merk Victorinox, Wenger buatan Swiss atau Leatherman asli buatan USA dengan multitools abal-abal—built quality dan daya tahannya jauh berbeda. Kebetulan saya suka kegiatan outdoor sehingga ada koleksi multitools dari Swiss dan USA. Tetapi sekali berubah, mereka akan lebih setia dari pada karakter celemak-celemek, yang pagi kedelai-sore tempe.
Sorenya bukan jadi tahu goreng, Pak Asen?
Karepmulah.
Rasul Petrus berkarakter keras, tetapi sekali diubah Tuhan, dia setia sampai mati, tidak pernah lagi menyangkali Tuhan. Bahkan ketika hendak dihukum mati dengan disalib, ia meminta agar disalib terbalik dengan kepada di bawah, karena ia merasa tidak layak disalibkan seperti Tuhan Yesus.
Saya jawab WA-nya bahwa saya akan berunding dulu dengan tim pelayanan di wilayah Kaltim agar dananya bisa dipertanggung-jawabkan. Pelayanan di Mahakam Ulu memang sedang membutuhkan gedung gereja baru, karena gedung gereja yang dipakai jemaat adalah Balai Pertemuan Umum yang dipinjamkan selama lima tahun. Gedungnya dulu sudah rusak parah dan sebelum dipakai harus sangat banyak direnovasi; mulai dari lantai, dinding sampai atap. Dan sekarang kabarnya harus dikembalikan lebih cepat dari jadwal sehingga gereja baru harus segera dibangun.
Saya memiliki ikatan batin khusus dengan jemaat di sana, sejak jemaat masih bergabung dengan sinode lain sekitar lima belasan tahun lalu. Gembala perintisnya, Pak Hengky Budi adalah teman baik yang sudah seperti saudara dengan saya. Karena beliau pindah, pelayanan dilanjutkan oleh Pdt. Fredy Halidin. Tetapi beliau juga kemudian pindah dan pelayanan jemaat dilanjutkan pendeta lain yang dikirim majelis daerah. Pertama kali saya pelayanan ke sana, di roh saya merasa jemaat di sana genuine/tulus menyambut kami, karena di banyak tempat lain kedatangan kami dianggap seperti kedatangan Santa Claus. Tetapi di sana kami tidak dianggap seperti itu, sehingga sangat nyaman untuk datang kembali.
Ada tempat yang sebelum kami datang sudah mengajukan bermacam permintaan dana dengan alasan untuk acara penyambutan dll. Lha, kami bukan pejabat yang perlu upacara penyambutan dengan biaya besar yang kami harus tanggung. Ini masuk kategori spesies JRB (jaluk ra bar). Ada lagi yang ketika kami datang perlakuan gembalanya sama sekali tidak ada keramahan, betul betul cuek bebek, dan berharap kami secepatnya angkat kaki dari sana—itu terjadi di daerah Katingan, Kalteng, di sebuah gereja yang dilayani seorang anak muda yang diutus dari sinode yang berkantor di Jl. P. Jayakarta, Jakarta. Ada juga yang ketika kami datang melayani malah menceritakan semua kebutuhan dari A sampai Z kwadrat pangkat tiga—dipikir kami punya gudang uang.
Selama sekian tahun bolak balik ke Mahakam Ulu tidak pernah ada satupun jemaat yang pernah saya dengar menyampaikan kebutuhannya kepada kami. Kami diperlakukan sebagai teman dan sahabat, dan diterima dengan ramah. Beberapa waktu kemudian Pak Hengky mengabari saya bahwa jemaat yang ditinggalkan menghubunginya kembali, meminta agar ada pelayanan lagi di sana. Dia meminta pendapat saya dan kami bertukar-pikiran, dan mengambil keputusan bersama untuk ada kelanjutan pelayanan di sana. Dan ketika menghubungi Pak Halidin, beliau bersedia melayani kembali di sana, meninggalkan kebun karetnya di Kutai Barat. Dan visi ini saya sampaikan di Persekutuan Doa & Pendewasaan, dan aktivis mendukung agar ada gereja baru di sana.
Kami beberapa kali bolak balik ke Mahakam Ulu untuk mengurusi renovasi gedung yang akan dipakai ibadah dan mengirim semua perlengkapan untuk renovasi agar ibadah bisa mulai berjalan, termasuk biaya kursi, solar cell, gen set, sound system, dan lain-lain. Dan teman-teman aktivis di persekutuan dengan sehati mengumpulkan dana yang cukup sampai renovasi selesai, plus untuk pengadaan perlengkapan alat ibadah. Dan belum lima tahun ada kabar gedungnya akan dipakai kembali sehingga harus pindah. Pak Hengky dan saya memiliki kewajiban moral untuk mencarikan tempat baru, karena kami berdua yang menyetujui adanya kegiatan ibadah lagi di sana, juga yang meminta Pak Halidin untuk kembali melayani di sana. Kewajiban moral yang tidak bisa dilepas begitu saja, ketika kemudian gereja harus mencari tempat baru.
Persekutuan sudah tidak aktif sejak Covid-19, sehingga saya tidak bisa menyampaikan kepada para aktivis perkembangan terakhir yang mengharuskan untuk adanya gedung gereja baru berukuran 8×14 meter. Pastori baru sudah bisa dibangun di tanah yang sekarang sedang dibangun gereja, walau luas tanah semula hanya setengah dari tanah yang sekarang dan belum dibayar sama sekali. Akhirnya saya sampaikan ke Pak Hengky bahwa kami akan berusaha semaksimal mungkin agar gereja baru bisa dipakai. Dan karena keterbatasan dana, saya berjanji akan menyelesaikan pembangunan sampai ada atap saja, pokok bisa dipakai ibadah dulu. Pak Hengky mengusulkan agar dibangun sampai dinding belakang mimbar, karena di belakang itu kebun karet. Dinding kiri kanan dan depan nanti dilanjutkan bila ada dana.
Saya share beban ini ke beberapa teman seperjuangan di persekutuan tanpa mengirimkan RAB-nya, karena saya berpikir kalau saya kirim RAB, itu akan mengintimidasi mereka agar menyumbang banyak. Jadi terserah kerelaan mereka tergerak mendukung berapa. Dan dana pertama masuk cukup untuk pembelian tanah, tetapi dibayarkan sebagian, karena yang sebagian dipakai untuk memulai pembangunan. Ada dana mulai terkumpul walau masih sangat jauh dari kebutuhan. Ketika dana mulai menipis sedang biaya yang dibutuhkan masih banyak, walau hanya sampai dibuat dinding belakang mimbar, dan tiga dinding lain akan dipergumulkan dananya. Dan semua pekerjaan pembangunan dilakukan oleh Pdt. Halidin bersama dengan jemaat tanpa tukang dari luar alias biaya tukang nol. Dan katakanlah gereja bisa dipakai ibadah walau tanpa dinding, masih ada lagi tanggung-jawab lain yang harus dikerjakan bagi jemaat.
Ada teman yang pernah ikut ke sana menjanjikan akan mengirimkan bibit jagung untuk ditanam jemaat di lahan mereka. Karena janji ini, jemaat menyiapkan 30 Ha lahan untuk ditanami jagung. Tetapi sampai hampir 3 tahun benih jagung belum dikirim juga. Dan Pak Hengky mengingatkan saya akan hal ini. Teman ini juga yang menjanjikan akan memberikan usaha air minum isi ulang untuk mendukung pelayanan di sana, tetapi tidak juga dilakukan—syukurnya ada teman lain yang mengambil alih sehingga usaha air minum isi ulang bisa dibangun di sana. Kembali tanggung jawab moral—walau bukan saya yang menjanjikan, tetapi teman itu. Sempat terbesit di pikiran saya untuk menjual mobil Kijang Diesel saya agar pembangunan bisa sampai berdirinya dinding di belakang mimbar sesuai janji saya, agar bisa dipakai ibadah, dan bila ada sisanya dipakai membeli bibit jagung untuk ditanam jemaat. Mobil Kijang Diesel 2001 saya bisa dijual 50-60 juta, lumayan untuk menambah biaya pembangunan. Walau bibit semangka dan jagung pernah dikirim sebelumnya tetapi itu hanya cukup untuk 2 Ha lahan.
Mumet juga punya teman asal janji dan kita yang harus bertanggung-jawab.
Kabar lewat aplikasi WA itu memberi pencerahan pergumulan yang ada. Tanah gereja akan bisa dibayar lunas, gedung bisa dibangun sampai selesai dengan dinding lengkap, dilanjutkan pembangunan ruang untuk sekolah minggu dan taman bacaan anak serta dua kamar untuk hamba Tuhan yang berkunjung. Gereja berjarak dua kilometer dari perkampungan jemaat, sehingga perlu ruang untuk sekolah minggu, agar orang tua tidak perlu bolak balik untuk menjemput anak mereka ke sekolah minggu. Keluarga yang tidak punya sepeda motor akan cukup kerepotan dengan keadaan itu. Beda kalau ibadah raya dan sekolah minggu bisa berjalan dalam waktu bersamaan. Juga ketika kamar untuk hamba Tuhan jadi, kita tidak lagi menyusahkan jemaat untuk harus menampung tamu, tapi mereka bisa menginap di kamar-kamar yang sudah disiapkan. Dan sisa dana bisa dipakai untuk membeli bibit tanaman yang bernilai ekonomis yang akan ditanam jemaat di lahan mereka. Mengobati kelelahan mereka yang sudah menyiapkan lahan yang 30 Ha dan lelah menunggu bibit jagung yang tidak kunjung datang sudah hampir tiga tahun—agar jangan pelayanan persekutuan kami ganti nama jadi persekutuan PHP.
Dalam percakapan lanjutan, teman ini mengabarkan bahwa Tuhan mulai memulihkan dia dan memberkati dia seperti yang saya nubuatkan di Balikpapan waktu itu. Saya katakan, saya lupa apa yang saya nubuatkan dulu kepadanya. Dia mengingatkan saya akan nubuatan itu dan sekarang tergenapi dalam hidupnya. Dan ketika mereka suami-istri berdoa, Tuhan gerakkan untuk menabur untuk daerah Mahakam Ulu. Saya tidak memberitahu kepada siapapun kekurangan dana yang masih banyak untuk pembangunan gereja, pengadaan benih-benih tanaman, kebutuhan ruang sekolah minggu dan taman bacaaan anak, penggantian aki solar cell dan inverter, penambahan kamar untuk pastori yang hanya memilik dua kamar tanpa dapur. Tetapi kemarin saya dapat kabar bahwa pemasangan tiang listrik sudah sampai di depan gereja baru sehingga tidak perlu lagi solar cell, aki dan inverternya. Dan ada beberapa rencana yang ada dipikiran dan hati saya untuk jemaat dan pelayanan di sana. Karena saya tidak bisa cerita kepada sembarang orang, dan tidak mungkin saya mengabari teman-teman yang sudah memberi tentang kebutuhan dana yang masih banyak, itu akan seperti memaksa mereka memberi lebih banyak.
Filipi 4:19 — Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.
Dari kabar yang saya terima lewat WA pada Jumat sore itu, memberi semangat baru untuk pelayanan saya selama ini.
1. Persekutuan pendewasaan bukan untuk mendoakan pergumulan yang hadir. Tetapi mengajar mereka untuk melihat kejadian dalam hidup mereka dengan jernih sebagai bagian dari rencana Tuhan yang meliputi juga didikan, proses, pemurnian yang panas seperti padang gurun bahkan dapur api dalam hidup ini. Sesuatu yang terjadi dengan luar biasa dan menguncangkan itu adalah awal Tuhan me-reset kehidupan anak-anak-Nya, dan mulai menginstall program-Nya ke dalam hidup orang percaya, agar apa yang Dia rencanakan dalam hidup mereka tergenapi, apa yang Dia sediakan bisa mereka terima dan apa yang Dia perintahkan mereka akan kerjakan.
2. Tujuan mendekat ke Tuhan bukan untuk mencari solusi dan promosi. Tetapi mengenal Dia lebih lagi, sehingga dengan pengenalan yang lebih dalam kita akan lebih tahu dan mengerti kehendak Tuhan. Kemudian kita akan mengadakan perubahan demi perubahan di hidup kita; fokus hidup, tujuan, karakter, persepsi terhadap harta dll—semua akan berubah secara radikal.
3. Makin mendekat kepada Tuhan, makin kita berubah; dari fokus menyenangkan diri dan memperalat Tuhan untuk mendapatkan semua keinginan kita, menjadi makin berusaha menyenangkan Tuhan dan menjadi alat di tangan Tuhan. Promosi bukan tujuan akhir tetap ada tugas dan tanggung-jawab setelah seseorang dipromosikan Tuhan.
4. Melatih kepekaan dalam mendengarkan Roh Kudus sehingga hidup kita setiap langkahnya sesuai pimpinanNya. Mengubah kekristenan agamawi menjadi Kristen yang dilahirkan kembali oleh Roh dan hidup dipimpin Roh.
Di kota tempat persekutuan doa semalaman ini ada beberapa type orang terhadap nubuatan dan pesan Tuhan:
1. Orang yang tidak pernah mau datang ke persekutuan, tetapi hanya mengundang secara pribadi. Berani berkorban memberikan fasilitas tiket pesawat PP, akomodasi dan memberi persembahan yang lumayan. Ada satu yang saya datang karena permintaan kakaknya yang saya kenal dekat di Surabaya. Beberapa kali saya datang ke pabriknya di kawasan industri menyampaikan nubuat, pesan petunjuk Tuhan—dan itu tergenapi. Waktu dia undang saya lagi, kami ke pabrik barunya yang jadi pabrik kedua, tetapi dia tetap tidak mau datang ke persekutuan. Sehingga saya mengambil keputusan untuk tidak lagi mau menerima undangannya, walau saya kenal dekat dengan kakaknya di Surabaya. Karena tanpa mau belajar lebih mengenal Tuhan orang percaya hanya akan menjadikan Tuhan alat untuk mencapai semua keinginannya. Dan saya tidak mau Tuhan diperlakukan seperti itu. Terakhir saya bertemu dia secara kebetulan di Soto Selan waktu makan pagi.
2. Ada yang menerima nubuat dan janji Tuhan yang luar biasa termasuk beberapa pom bensin besar, proyek-proyek di BUMN, tetapi tidak ada perintah Tuhan yang ditaati, sehingga dari sekian banyak nubuatan dan janji Tuhan tidak ada satupun yang tergenapi sampai renungan ini diupload. Selalu ada alasan dan pertimbangan yang dikemukakan untuk tidak melakukan apa yang Tuhan sudah perintahkan.
3. Ada yang awalnya rajin hadir, setelah apa yang Tuhan sampaikan tergenapi, tidak pernah muncul lagi. Ada yang ketika nubuatan tentang pabrik baru yang akan Tuhan berikan kepada mereka—ciri-ciri fisik partner bisnis yang akan menghubungi mereka untuk membeli produk mereka, petujuk jenis produk baru yang mereka harus buat, lokasi pabrik baru yang mereka tinggal masuk karena sudah berbentuk bangunan siap pakai—semua detail Tuhan sampaikan, dan itu semua terjadi—mereka kemudian menghilang, padahal tidak ada sistem success fee/royalty. Di persekutuan kami dari awal tidak ada menyediakan kotak persembahan apalagi mengambil persembahan. Tetapi Kristen tipe Lot memang hanya puas sampai lembah Yordan yang subur, tidak mau lagi melanjutkan perjalanan ke Kanaan.
4. Ada yang tetap mau belajar mengenal Tuhan lebih dekat, belajar bermazmur semalaman, rela menerima pengajaran dan teguran Tuhan, walau mereka saat itu sedang mengalami tekanan, himpitan dalam hidup mereka yang membutuhkan solusi segera. Dan ini jumlahnya sangat sedikit. Di awal persekutuan pendewasaan ada sekitar 170 orang yang hadir, kemudian setelah bertahun-tahun tersisa sekitar 20 orang yang tetap setia.
Karena banyak orang hanya mencari berkat Tuhan, ketika semua di dapat, langsung ciao dari Tuhan. Sedang visi dan misi kita adalah membuat orang mencari Tuhan—bukan fokus pada bonus-bonus dari Tuhan—dan tetap setia kepada Tuhan sekalipun sudah menerima penggenapan janji-janji Tuhan.
Ada perasaan bersyukur kepada Tuhan bahwa pelatihan kepekaan lewat Doa Semalaman di kota itu semakin menampakkan buahnya. Saya tidak pernah cerita kepada teman ini baik tentang kekurangan dana untuk pembangunan gereja, janji teman lain untuk benih jagung 30 Ha yang sekitar Rp30-45 juta (tergantung jenis benih jagung yang akan ditanam), kebutuhan ruang sekolah minggu, kamar bagi hamba Tuhan tamu dan beberapa rencana untuk memberdayakan ekonomi jemaat di sana. Termasuk rencana untuk memproduksi tahu.
Tetapi dengan akurat teman itu mendapatkan penyataan bahwa dia diperintah Tuhan untuk mendukung pelayanan di Mahakam Ulu. Tidak sia-sia pelatihan kepekaan selama ini. Kepekaan kepada Roh Kudus membuat orang percaya bisa menjadi berkat besar dalam pelayanan, karena tersalurkan tepat kepada yang sedang membutuhkan. Sehingga itu memuliakan Tuhan, karena jemaat akan bersyukur karena Tuhan menjawab doa mereka, tepat sesuai apa yang mereka butuhkan saat itu. Bisa dibayangkan bila dari 170-an orang tersisa sekitar 20 orang yang tetap setia, dan yang setia tidak mengalami kegenapan janji Tuhan? Lebih enak jadi Kristen hit and run saja—Tuhan genapi langsung minggat.
Dan dari kesaksian teman ini saya menjadi lebih lega lagi, karena saya pernah menyampaikan nubuat ke satu keluarga di kota lain, dan mereka sedang mengalami proses padang gurun dan dapur api. Setiap saat saya kuatkan mereka, agar tetap percaya kalau Tuhan sudah nyatakan Dia sanggup menggenapinya. Tetapi kadang keluarga ini goyah oleh tekanan dan kerasnya kenyataan hidup yang mereka sedang alami. Saya bisa maklumi, walau banyak saya berikan kesaksian pribadi kepada mereka akan pertolongan, pemeliharaan dan kegenapan janji Tuhan dalam hidup saya, tetapi posisi saya sebagai hamba Tuhan berbeda dengan posisi mereka sebagai pengusaha. Bagi mereka, lha, untuk hamba Tuhan kan berbeda; orang bisa beri, kirim, transfer kebutuhan saya—tapi buat mereka yang pengusaha mana bisa seperti itu?! Sehingga dengan keluarnya teman di persekutuan dari padang gurun akan lebih cocok untuk bersaksi kepada mereka, karena sama-sama pengusaha. Saya sudah menginfo teman ini dan meminta kesediaannya tahun depan untuk mampir ke rumah mereka, bersaksi bagaimana kesetiaan Tuhan menggenapi janji-Nya, walau apa yang dijanjikan itu seperti mimpi yang terlalu tinggi, mustahil dicapai karena nilai investasinya 5.2 Teh poci. Tetapi apakah Tuhan setelah menjanjikannya tidak sanggup menggenapinya? Bukankah bagi Tuhan tidak ada yang mustahil dan Dia ingat janjinya bahkan kepada seribu generasi (Mazmur 105:8), apalagi janji-Nya yang Dia sampaikan hanya beberapa tahun lalu.
Kemarin sorepun teman dari Jakarta yang setia hadir di persekutuan—walau itu berarti dia harus terbang dan balik keesokan harinya—menanyakan tentang aki dan inverter di gereja lama, apakah perlu diganti. Inverter memang tiap tahun jebol karena merk abal-abal, aki solar cell sudah berumur 3 tahun lebih sehingga sudah drop. Dia minta agar beli inverter yang bagus dan aki yang kapasitas ampere-nya lebih besar dan dia yang akan berikan dananya. Tetapi sore itu juga dapat kabar bahwa ada pemasangan tiang listrik sampai depan gereja dan dijanjikan PLN setempat listrik akan menyala sebelum Natal. Luar biasa! Saya kemudian sampaikan berita ini lewat telpon dan teman ini katakan untuk biaya instalasi listrik gereja baru dia yang akan tanggung.
Sebelum semuanya ini, teman yang berjanji memberi bibit jagung menghubungi saya minta maaf bahwa bibit jagung dia tidak bisa kirim, karena alasan transportasi terlalu jauh untuk membawa hasil panen dari Mahakam Ulu ke Jawa Tengah. Lha, untuk apa hasil panen dikirim ke sana? Hasil panen sudah ada yang beli koq, tidak perlu dikirim jauh-jauh. Karena itu saya berunding dengan koordinator persekutuan kita di kota lain tentang hal ini, dan dia akan membantu urunan untuk pengadaan bibit. Tetapi karena sudah ada dana untuk pengadaan bibit, nanti diarahkan ke modal awal usaha produksi tahu.
Semuanya terjawab sudah untuk pembangunan gedung gereja, ruang sekolah minggu dan taman bacaan anak, kamar untuk hamba Tuhan tamu yang sedang berkunjung, pengadaan bibit jagung, labu, semangka dan sorgum, biaya untuk instalasi listrik dan modal produksi tahu. Pelayanan saya jadi lebih ringan karena akan ada kesaksian yang akan disampaikan kepada keluarga yang sudah menerima nubuat dari sesama pengusaha yang mengalaminya langsung. Itu akan lebih mudah diterima dan lebih menguatkan dari pada banyak kesaksian saya sebagai hamba Tuhan.
Sekali Tuhan bertindak, banyak hal terjawab dan terselesaikan. Jadi bengong dah.