Andai, Bila, Kalau, dan Maka
Yeremia 20:7 – Engkau telah membujuk aku, ya TUHAN, dan aku telah membiarkan diriku dibujuk; Engkau terlalu kuat bagiku dan Engkau menundukkan aku. Aku telah menjadi tertawaan sepanjang hari, semuanya mereka mengolok-olokkan aku.
Ada saatnya seseorang memikirkan kembali keputusan yang ia sudah buat di waktu lampau. Tekanan, kesulitan yang dihadapi, tidak jarang membuat seseorang mempertanyakan, bahkan menyesali keputusan yang sudah diambil; merasa bila dulu dia mengambil keputusan yang berbeda maka tentu situasi yang dihadapi dan kondisi hidupnya tidak akan separah/seburuk sekarang.
Andai waktu itu aku memilih si Joko bukan si Bongko ini, kehidupan rumah tanggaku tidak akan sekere ini. Bila waktu itu aku tidak pindah kerja, sekarang aku sudah jadi manajer di perusahaan itu. Kalau dulu tawaran itu aku ambil, maka aku tidak perlu menderita seperti ini.
Demikian banyak andai, bila, kalau dan maka yang kadang berkecamuk di pikiran kita pada saat kita diperhadapkan dengan kesulitan, pergumulan dan masalah. Kecendrungan untuk berpikir kilas balik/flash back sepertinya dialami oleh tidak sedikit orang. Kita tidak bisa mengubah masa lalu; termasuk kesalahan, keputusan yang sudah dibuat, hidup yang sudah dijalani—tetapi kita bisa mengubah pandangan kita terhadap masa lalu agar kita bisa lebih bijak, siap dan tidak mengulangi kebodohan itu di masa mendatang. Menyesali kesalahan dan kekeliruan masa lalu hanya akan membuat realita hidup menjadi semakin pahit dan buruk. Menyalahkan diri dan tidak bisa mengampuni diri sendiri merusak kemampuan kita untuk menghadapi masa depan karena fokus kita pada masa lalu yang sudah lewat, tanpa berbuat apa-apa untuk masa depan.
Waktu tidak menunggu kita siap atau tidak; dia tetap berjalan. Ketika kita stuck/gamon (gagal move on) di masa lalu maka tidak ada harapan hidup kita akan menjadi lebih baik di masa kini apalagi di masa mendatang. Yang ada hanya penyesalan, kesedihan, kemarahan, kekecewaan, keputus-asaan, rasa diri bodoh, tidak berarti dan banyak perasaan dan pikiran negatif lainnya. Ingat, masa lalu tidak bisa kita ubah; jangan percaya akan mesin waktu yang bisa membantu kita ke masa lalu untuk menghindarkan dan memperbaiki salah langkah dan salah membuat pilihan dan keputusan yang sudah kita buat.
Dalam perjalanan kehidupan dan pelayanan, saya pernah berkali-kali sempat menyesali keputusan ketaatan yang saya ambil. Andai di masa lalu saya mengambil keputusan yang berbeda, maka saya beranggapan keadaan saya tentunya tidak akan mengalami hal-hal menyakitkan yang saya alami kemudian. Andai saya tidak meninggalkan Perancis untuk balik ke Indonesia tetapi menerima tawaran untuk mengelola investasi ayah angkat saya yang adalah mantan petinggi perusahaan multi nasional dengan cabang di 190 negara, maka saya akan berlimpah ruah dengan materi dan tidak akan dihina, difitnah, diperlakukan orang seenaknya. Bisa-bisa saya sudah jadi top executive di Eropa dan Amerika, karena ayah angkat saya tidak menikah, dia menawarkan saya mengelola semua asset dan investasinya di USA. Dalam satu tahun dia menghabiskan 9 bulan keliling dunia dan total hanya 3 bulan di rumahnya di Perancis.
Bila saya terima saja persembahan, rumah berlantai tiga dengan basement parkir untuk 8-12 mobil yang diberikan seorang pengusaha kepada saya, minimal saya tidak akan dipandang sebelah mata oleh keluarga istri saya. Kalau saya tidak usah tanya Tuhan atas setiap persembahan yang diberikan dalam pelayanan kepada saya—boleh diterima tidak, kalau tidak boleh terima saya tolak, kalau terima harus disalurkan ke mana, ambil sikap ciak ae dan di pek dewe tinggal pakai ayat pamungkas:
1 Timotius 5:18 – Bukankah Kitab Suci berkata: “Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik,” dan lagi “seorang pekerja patut mendapat upahnya.”
Kalau tidak perlu berbagi berkat materi dengan orang lain, bila tidak banyak menyalurkan kembali berkat yang saya terima kepada orang-orang yang membutuhkan, sudah lama saya naik mobil mewah built up yang harganya eMberan. Bila tidak tanya Tuhan waktu mau diberi dua Rolex all gold, sekarang tentu penampilan sudah keren; rumah lantai tiga dengan basement 8-12 mobil, naik mobil built up, di mimbar pake Rolex all gold. Pastinya akan lebih dicari, diundang, didengar dan dihargai umat kumat; karena mereka tidak akan mendengar omongan orang mimbar yang tidak sukses secara materi duniawi. Dan masih ada cukup banyak andai, kalau, bila dan maka yang sempat menggoyahkan ketaatan saya kepada-Nya.
Ada yang berlangsung beberapa menit langsung sadar dan minta ampun, ada yang berlangsung beberapa jam, ada yang beberapa hari, ada yang hampir sebulan—karena ada tekanan dan himpitan yang ringan, dan ada yang sangat berat. Syukurnya pada saat saya goyah, seakan sudah tergeletak tak berdaya dan tidak ada kekuatan untuk bangkit, Roh Kudus mengambil alih semuanya, memberi kekuatan dan kemenangan atas hal itu.
Keluaran 5:20-21 – Waktu mereka meninggalkan Firaun berjumpalah mereka dengan Musa dan Harun, yang sedang menantikan mereka, lalu mereka berkata kepada keduanya: “Kiranya TUHAN memperhatikan perbuatanmu dan menghukumkan kamu, karena kamu telah membusukkan nama kami kepada Firaun dan hamba-hambanya dan dengan demikian kamu telah memberikan pisau kepada mereka untuk membunuh kami.”
Sepanjang catatan Alkitab tentang perjalanan orang Israel dari Mesir sampai ke Kanaan kita mendapati pola yang sama dan terus berulang tentang iman, ujian dan pemberontakan mereka kepada Tuhan. Ketika mendengar janji Tuhan, mereka bersukacita, mereka mau taat; tetapi ketika ada ujian terhadap iman dan ketaatan mereka, bukannya menghasilkan kerendahan hati, perubahan karakter, iman yang teruji, tetapi malah pemberontakan kepada Tuhan karena hati yang tetap masih degil. Janji Tuhan tidak dihargai, diangggap enteng, dan tidak layak untuk diperjuangkan. A promise not worth fighting for.
Keluaran 14:11-12 – dan mereka berkata kepada Musa: “Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir? Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir daripada mati di padang gurun ini.”
Kita melihat pola pikir, kelakuan dan pengertian yang tidak berubah walaupun Tuhan sudah mengadakan 10 mujizat di depan mata mereka untuk mengeluarkan mereka dari Mesir. Setiap ada kesulitan bukannya belajar makin beriman karena sudah melihat sepuluh mujizat, tetapi langsung goyah, menggerutu, memberontak, menyesal dibawa keluar dari Mesir—kesukaran membuat mereka tetap ingin balik ke penderitaan lama. Janji Tuhan dan perbuatan-perbuatan dahsyat Tuhan tidak diingat, seakan janji-janji itu tidak berarti dibandingkan dengan penderitaan sesaat yang harus mereka alami sebelum janji-janji itu digenapi. Kalau harus melewati penderitaan sesakit ini, buat apa berharap kegenapan janji-janji Tuhan. Padahal di Mesir keadaan mereka sangat berat karena kerja paksa dan hidup setiap hari dengan target produksi bata bata yang mereka harus penuhi.
Lho koq sama dengan nasib saya, Pak; ditarget closing, jumlah nasabah, penjualan, setiap bulan. Apa itu berarti boss saya Firaun, Pak?
Sembarang kamu. Sebagai pekerja atau karyawan, Tuhan mengajar kita untuk berprestasi melebihi ekspektasi perusahaan atau atasan.
Mana ada ayat seperti itu, Pak, koq, saya tidak pernah baca atau dengar?
Matius 5:41 – Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.
Bukankah ini berarti mengerjakan sesuatu melebihi ekspektasi? Sewaktu saya masih mengelola hotel, owner menarget saya sebulan USD 50.000.
Itu sih gampang, Pak, kalau cuma segitu.
Cek tahun dan fasilitas hotelnya sebelum omong. Itu cuma hotel kecil dan waktu itu 1 USD hanya Rp 1.600-an. Saya katakan kepada owner-nya, tiap bulan saya setor USD 100.000. Dia tanya caranya bagaimana, saya jawab pokoknya nanti tiap bulan saya setor segitu. Di bulan-bulan high season saya bisa menyetor sampai USD 143.000-an. Di saat itulah saya bertemu dengan ayah angkat saya yang menginap di hotel kami selama lebih dari sebulan. Dia melihat saya bekerja dari jam 08.00 sampai minimal 23.30 setiap hari, 7 hari dalam seminggu. Ketika saya mengunjungi dia di Perancis, dia menawarkan saya untuk mengelola semua asset dan investasinya di USA—padahal dia punya banyak teman dan sahabat di banyak negara tetapi tawaran itu dia berikan kepada saya. Tetapi kata yang sama yang saya dengar berkali-kali di awal panggilan saya, “Pulang!” kembali bergema. Berani melawan? Pasti remuk, boss!
Lukas 16:12 – Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?
Ayat ini adalah PIN pembuka kepercayaan Tuhan untuk menyerahkan apa yang Dia sudah rencanakan dan sediakan bagi anak-anak-Nya. Kalau selama seseorang bekerja untuk orang lain/ikut orang/makan gaji, dia tidak menunjukkan tanggung jawab, kinerja yang baik, mana mungkin Tuhan bisa percayakan dan serahkan apa yang sudah Dia siapkan bagi orang itu.
Tapi percuma kita kerja keras, bos tidak menghargai prestasi kita; gaji tidak naik, yang naik terus tiap bulan adalah target; bos makin kaya kita makin miskin. Buat apa, Pak? Mending kerja ala kadar saja.
Kolose 3:23 – Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
Di sini jelas tidak ada pekerjaan sekuler dan pekerjaan spiritual. Semua tergantung motivasi dan tujuan kerjanya. Sekalipun itu kegiatan/pekerjaan spiritual/religius, bila dikerjakan dengan motivasi memperkaya diri sendiri, itu adalah pekerjaan sekular bidang spiritual dan sebaliknya.
Tapi percuma kerja keras, tidak diperhatikan, bos pilih kasih.
Ingat, mata Tuhan tidak buta, Dia tahu siapa yang layak Dia promosikan, tidak perlu mengajukan diri untuk dipromosikan.
Kalau minta promosi, percepatan, dan terobosan pakai perpuluhan dan aneka macam persembahan pancingan, bisa, Pak!
Nah, ente sudah sesat my nephew.
Sorry uncle Roger.
Uncle Roger iku sopo om?
Cari di YouTube.
Kalau membaca tentang perjalanan orang Israel kita sendiri akan merasa jengkel dengan kebebalan dan kekerasan hati mereka—ngomel, melawan dan memberontak terus. Tetapi orang-orang yang dibentuk Tuhan pasti akan lebih mengerti tentang hal ini, karena mereka mengalami panas dan beratnya perjalanan padang gurun proses. Kalau yang hidup di awang-awang teologi kemakmuran mana bisa mengerti, wong rohani mereka jalan di tempat, tidak akan mengerti tentang padang gurun peremukkan, pemurnian, pembentukan. Ingat, orang buta tidak takut ular. Jadi percuma menjelaskan kepada mereka, tidak akan bisa mereka mengerti, hasilnya paling minimal dibilang tidak Alkitabiah, karena mereka memegang Alkitab versi mereka masing-masing, jadi susah menerima ajaran sehat.
Keluaran 16:3 – dan berkata kepada mereka: “Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan.”
Pola yang sama terus terjadi; mereka tidak pernah bisa keluar dari pola mengeluh, berpikir kembali tentang Mesir, dan ada keadaan baik yang mereka nikmati di Mesir. Lihat kalimat keluhan mereka, mereka memakai selected information: makan roti dan daging sampai kenyang. Fakta lain bahwa mereka kerja paksa yang berat tidak disebutkan. Dulu menjerit minta dilepas dari kerja paksa; ketika menghadapi masalah, ingin balik. Unfair.
Keluaran 17:3 – Hauslah bangsa itu akan air di sana; bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata: “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?”
Kalau kita teliti, dalam pemberontakan mereka selalu ada kecurigaan dan tuduhan bahwa Tuhan membawa mereka untuk mematikan dan membunuh mereka di padang gurun. Pimpinan Tuhan dianggap sebagai hukuman Tuhan, rencana dan janji Tuhan dicurigai sebagai rencana untuk mencelakakan mereka.
Yeremia 29:11 – Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
Terjemahan lain menuliskan untuk memberi masa depan yang cerah, karena kata masa depan yang penuh harapan bisa berkonotasi lain. Cuma penuh harapan, dan tetap berharap, belum ada yang jadi kenyataan. Kan repot.
Sayapun pernah berkali-kali mencurigai dan menuduh Tuhan dengan tuduhan yang jahat. Ketika saya dipanggil masuk dalam pelayanan, saya menuduh Dia tidak suka saya jadi orang yang sukses di pekerjaan saya. Ketika Dia diam tidak menjawab waktu saya di ajak ke toko jam untuk diberi Rolex all gold, pulangnya saya menuduh Dia membedakan saya dengan hamba-Nya yang lain—padahal saya tidak pernah minta rolex itu, orangnya yang mau beri saya. Kenapa hamba-Nya yang lain boleh pakai jam mahal sedangkan saya tidak boleh? Padahal rasanya saya lebih menderita dalam pelayanan ketimbang mereka. Saya masuk ke pedalaman Sumatra dan Kalimantan, naik di truk gelondong kayu, mengangkang di gelondong kayu berjam-jam jalan kaki menyeberangi sungai yang sedang banjir sedada dengan risiko dihantam gelondong kayu yang hanyut. Menginap di tengah hutan karena mobil di depan kami mogok menghalangi jalan, mobil yang kami tumpangi tidak bisa lewat karen mogoknya tepat di tanjakan curam yang sempit. Dan banyak duka pelayanan pedalaman. Saya dikasih tugas yang tidak menyenangkan; menegur dan mendewasakan umat, sehingga tiap khotbah bertambah pula musuh yang tersinggung dan merasa dikonceki, diklenteki. Sedang yang lain umbar janji-janji angin surga di mimbar. Orang dengar khotbah saya jengah, dengar obralan mereka sumringah. Piye toh?
Ketika Dia katakan, “Kalau kamu sudah pintar, Aku akan tinggalkan!” Spontan saya jawab, “Lho, Tuhan ingin saya tetap bodoh ya?” Belakangan baru saya mengerti ada satu fase yang sangat berbahaya bagi seorang hamba—yang karena pengalaman, senioritas, urapan, prestasi, karunia—akhirnya berjalan menyalip Tuhan. Kalau dulu dia ikut Tuhan, sekarang dia seret Tuhan ikuti mau dia. Di awal semua tanya Tuhan, minta petunjuk, nasehat, pimpinan Tuhan, kemudian menyingkirkan Tuhan, hanya memakai Tuhan sebagai batu lompatan, dalih, jual nama Tuhan untuk kepentingan dan keuntungan pribadi.
Maleakhi 3:13 – Bicaramu kurang ajar tentang Aku, firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: “Apakah kami bicarakan di antara kami tentang Engkau?”
Ayub 1:22 – Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.
Kilas balik pikiran tidak salah, asalkan untuk mengambil hikmat dari kesalahan, kekeliruan di masa lalu—menjadi pelajaran yang berharga untuk menapak ke depan. Tetapi menyesali ketaatan kepada Tuhan jelas adalah kesalahan fatal—tidak menghargai janji Tuhan, penuh tuduhan dan kesalah-pahaman tentang Dia. Terlalu banyak orang rela menderita untuk kepentingan dan obsesi pribadi, tetapi tidak rela menderita untuk Tuhan.
Yehezkiel 36:26 – Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.
Hosea 4:6 – Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu.
Ketaaatan bukanlah suatu kesalahan walau kemudian menghasilkan hempasan dan himpitan. Justru ketidak-taatan yang lebih banyak menghasilkan kelegaan sementara, karena:
Matius 7:13 – Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya;
Jadi, kalau taat jadi sesak, alkitabiah. Kalau berontak malah lega, itu sudah tertulis.
Tinggal pilih salah satu.